Reportase Sanggar Kedirian 20 Januari 2017

 

 

Sudah tidak asing lagi jika dalam sebuah hubungan persaudaraan terjadi dinamika di dalamnya, tidak terkecuali di Sanggar Kedirian. Sehingga yang kita butuhkan adalah memasang kuda-kuda yang pas, karena setiap individu memiliki fungsi yang tentu tidak sama, porsi, presisi dan kompetensinya.

Adakalanya ia sebagai pengkritik, pengawas, pemelihara, menjadi pupuk atau bahkan hama dan parasit. Oleh karena itu, agar tidak terjadi intervensi, perpecahan, adu domba dan kesalahpahaman, mari kita himpun keawetan peseduluran dengan menjaga kesolidan sehingga Obor Peseduluran bisa terus berkobar menyala. Jadikan semua yang pernah menghiasi bingkai dalam ukhuwah ini, menjadi kemanfaatan di masa depan karena ia adalah bagian dari proses peseduluran itu sendiri.

“Lantas, bagaimana agar kita bisa menanam di kebun sendiri? Ditrisnoni kabeh”, ngendikane Lek Ham. Mari menanam dengan jeli dan mencari fungsi setiap sesuatu. Karena sebenarnya tidak ada sesuatu yang tidak baik dari kebermanfaatan itu sendiri.

Ketok gak dipethui, ilang gak digoleki. Membelakangi tidak berarti membenci dan memusuhi. Ada tali hati yang selalu setia menemani. Belajar setia pada paseduluran, walau menjaganya tidaklah mudah.

Dianalogikan oleh Pak Bus bahwa dalam paseduluran seperti halnya bangunan rumah. Meski terkadang ada orang dengan fungsi genteng merasa paling berjasa karena sifatnya mengayomi dan melindungi dari hujan namun akhirnya akan merasa juga bahwa kehadirannya ditopang oleh orang dengan fungsi reng dan usuk yang rela terkena tusukan paku kesengsaraan demi menopang orang dengan fungsi genteng.

Pukul 00.00 WIB, acara diakhiri dengan bersholawat bersama dan doa. Dilanjutkan dengan bersalam-salaman sebagai pertanda terjaganya nyala obor paseduluran untuk kebermanfaatan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *