Reportase Sanggar Kedirian 20 April 2018

 

 

Membangun diri menjadi pribadi yang kuat menjadi motivasi dulur-dulur kembali berkumpul dalam diskusi rutinan Sanggar Kedirian. Dengan mengangkat tema besar “Ajeg Jejeg” diharapkan semua dulur-dulur Sanggar Kedirian memiliki pondasi yang kuat dalam menjalani kehidupan, serta konsisten menebar kebaikan dan kebahagiaan.

Sebelum diskusi dimulai, dilaksanakan tadarusan yang dalam kesempatan itu dibacakan surat Ali Imron. Selain itu, di tengah-tengah kegiatan berlangsung, dilantunkan Sholawat sebagai wujud kecintaan dan kerinduan terhadap Allah dan Rasulullah.

Karpet biru dan segelas kopi menemani kami melingkar bersama menemukan nilai. Mas Hartono membuka diskusi memancing dulur-dulur untuk membahas tema ajeg jejeg.

Mas Ibrahim menyampaikan bagaimana ide tema ajeg jejeg ini muncul, dari mas Gatot yang memiliki pemikiran bahwa dalam hidup ini kita harus waspada atas prasangka atas diri sendiri, kepada orang lain dan kepada sesuatu.

Dikembangkan pada unen-unen “Urip kudu tansah eling lan waspodo” yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut mas Andri, “Ibarat silat kita harus menyiapkan kuda-kuda untuk siap menghadapi serangan. Siap yang dimaksud ialah ketepatan menyikapi segala sesuatu dengan pas terhadap segala serangan informasi.”

Di kalangan dulur-dulur Sanggar Kedirian seringkali ada ungkapan, “Sing penting ajege lur.”Menurut mas Adnan, ” Ajeg adalah sering atau Istiqomah. Jejeg ialah sebuah penekanan, sebuah pemahaman bagaimana dengan sebuah prinsip kita menyikapinya.”

Dalam diskusi tersebut, Pak Bustanul ‘Arifin, selaku pauger keilmuan, menguraikan garis tema yang didiskusikan. Beliau menuturkan, “Ajeg jejeg berasal dari Bahasa Jawa “Jeg” yang artinya tidak pernah berubah dan tidak mudah goyah. Jadi kita dituntut selalu ajeg , agar nantinya kita tetap jejeg dalam menghadapi berbagai macam kondisi kehidupan ini.”

Pak Bus menambahkan, “Di tengah-tengah sesuatu yang salah harus selalu ditumbuhkan sesuatu yang benar. Saat kesalahan dilakukan secara bersama-sama dan terus-menerus maka bisa jadi dianggap suatu kebenaran. Maka sikap ajeg jejeg bisa membuat perubahan untuk mencari yang benar-benar benar.

Diskusi rutinan malam Sabtu Legi ini, digelar di pelataran Gedung GNI, Kota Kediri. Acara yang dimulai pukul 21.00 WIB ini dihadiri sekitar 25 orang dari Kediri dan sekitarnya.

Di sesi terakhir, acara dipuncaki dengan Mahallul Qiyam dan melantunkan Sholawat. Diskusi ditutup dengan bersalam-salaman antar seluruh dulur-dulur Sanggar Kedirian sebagai wujud tali kasih dan pasuduluran. [Alwim]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *