Pambuko rutinan Sanggar Kedirian Oktober 2018


Dengan segenap kerendahan hati, kami mohon ampun padamu Ya Rabb. Mungkin telah lama kami berbuat dosa. Dosa yang tak berkesudahan.

Gempa dan Tsunami di Lombok, Palu dan Donggala. Gunung Gamalama yang mulai mengeluarkan asap. Gunung Soputan dan Krakatau yang sudah lebih dulu metetus.

Arti beberapa kejadian akhir-akhir ini memang menjadi rahasia-Mu. Kami sebagai hamba hanya bisa graito sajroning manah bahwa kami memang harus berbenah. Menemukan kembali letak kesalahan-kesalahan untuk tidak kami lakukan kembali.

Kami memang pantas Engkau hukum gempa, karena sebenarnya kami telah membuat gempa diri kami sendiri, yakni gempa budaya yang sudah tak peduli aturanMu.

Kami membuat tsunami politik yang tidak peduli cinta kasihMu.

Kami membuat banjir informasi yang tidak peduli kebenaranMu.

Kami membuat badai ekonomi yang tidak peduli halal haram Mu.

Kami sedang menjalankan peradaban dimana dosa selalu dilimpahkan pada yang lain. “Salah itu mereka dan benar itu saya”. Dosa terbesar kami ialah tak pernah merasa berdosa. Terlampau besar dosa kami jika dibandingkan peringatan yang Engkau beri. Mungkin juga, ini malah bentuk cinta-Mu. Kuterima cintamu Ya Rabb_, meski cinta itu berupa hukuman.

Tunjukkan kami ke jalan orang-orang yang Engkau beri kenikmatan. Kenikmatan dari-Mu, versi-Mu. Bukan jalan kenikmatan semu yang membuat Engkau marah. Bukan pula jalannya orang-orang yang sesat. Saking sesatnya Engkau bahkan tak peduli, naudzubillah.

“Ihdinash-shiroothol-mustaqiim.Shiroothollaziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhooollin.”

“Ampun Duko”.”Kumohon Engkau tidak murka”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *