Pambuko rutinan Sanggar Kedirian Desember 2018

Pada suatu masa yang jauh, sang raja dari sebuah negeri yang konon disebut sebagai salah satu negeri penggalan surga, baru saja mengalami sebuah mimpi yang ganjil.

Para ahli tafsir mimpi dikumpulkan. Satu persatu disuruh menafsirkan keganjilan mimpi tersebut. Namun, tidak satupun yang mampu melegakan perasaan sang raja. Suasana seketika menjadi gamang. 

Di saat kegamangan mencapai puncaknya, seorang gedibal memberanikan diri berbicara. “Ampun, Baginda,” kata si gedibal, “Hamba mengenal seseorang yang mampu menafsirkan mimpi tersebut.”

“Jangan asal bicara, wahai alas kakiku,” hardik sang raja,”Semua ahli tafsir mimpi yang ada di negeri ini sudah kukumpulkan. Orang mana lagi yang kau maksud?”

“Kenalan hamba bukan penafsir mimpi, Baginda. Ia hanya seorang hamba Tuhan yang lebih memilih penjara daripada…”

“Aku ingat orang itu,” sahut sang raja, “Lekas temui dan ceritakan padanya ihwal mimpiku!”

“Sendika, Baginda.” kata si gedibal sembari beringsut pergi.

Sesampainya si gedibal di penjara dan setelah membicarakan basa-basi untuk kepantasan, ia langsung menyatakan maksud kedatangannya, ”Wahai Yusuf, terangkanlah arti dari mimpi sang raja tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus dan ada tujuh tangkai gandum yang hijau sementara tujuh tangkai lainnya kering.”

Begitulah, kelanjutan dari kisah tersebut dapat kita lihat sendiri dalam Al-qur’an Surat Yusuf. Syukur, kalau bisa, dengan sedikit mentadabburinya, hasil dari tadabbur tersebut dapat kita rembug bersama dalam rutinan Sanggar Kedirian yang kebetulan mengambil tema yang masih berkesinambungan dengan cerita diatas: Angon Mongso.

Memang tidak semua manusia mempunyai keahlian men-takwil mimpi seperti yg dianugerahkan Allah kepada Kanjeng Nabi Yusuf, mampu merinci dan menjelaskan apa gerangan yang terjadi di musim mendatang. Pertanyaannya sekarang apakah kita lantas diam saja menghadapi “musim/cuaca” yg sedang berlangsung di negeri kita ini, yang muskil untuk kita takwilkan?

Sebisa-bisanya dengan bekal sejimpit ilmu mininal jika belum bisa membuat “cuaca”, yang bisa kita lakukan dalam lingkaran kita adalah bersama-sama membuat “rumah kaca”. Walaupun kecil namun di dalam rumah kaca itu semoga cuacanya tertata dan yang tumbuh adalah benih-benih yang benar-benar bagus.

Karenanya mari bersama-sama sinau bareng, melingkar dalam rutinan Sanggar Kedirian, bersama-sama belajar Angon Mongso, belajar memperkokoh kuda-kuda untuk menghadapi dan mempersiapkan segala hal yang terjadi. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk kita, anak kita, istri kita, keluarga kita dan lingkaran-lingkaran kecil di sekekiling kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *