Pambuko Sanggar Kedirian 25 Januari 2019

Allah ta’ala berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)3
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

DEFORMASI INFORMASI
Memasuki hiruk-pikuknya pilpres 2019 ini, kita harus mempunyai kesanggupan untuk menjadi cah angon, sebagimana tema Sanggar Kedirian bulan lalu, selalu mempunyai naluri keseimbangan apapun mongsonya. Karena akan banyak kita temukan suguhan-suguhan kedzoliman informasi. Kode etik jurnalistik dan media seakan begitu mudah dilanggar demi kepentingan pengendalinya. Padahal media memiliki daya peran yang sangat krusial dalam mengedukasi atau membentuk opini dalam masyarakat. Tolok ukur apakah yang membuat media massa melakukan hal demikian? Lebih dari itu, bahkan media menjadi alat mengada-adakan citra diri seseorang, sehingga dapatkah dikatakan bahwa pencitraan itu adalah penipuan? Niat kesungguhan kepada siapa yang mereka sematkan dalam hatinya? Mungkinkah ternyata kita juga menjadi bagian dari mereka sehari-hari? Lantas laba apa yang kita dan mereka dapatkan? Ataukah justru membuat tersesat ke ruang-ruang hampa kepalsuan.

MENAGIH DIRI
Namun prinsipil Kedirian mengajak kita untuk lebih melakukan penyadaran diri kedalam. Yang bisa dilakukan adalah berusaha menyikapi segala sesuatunya secara objektif. Objektifitas dapat dipahami sebagai sebuah gambaran sikap kejujuran, upaya bebas dari pengaruh pendapat atau kepentingan pribadi atau golongan dan lain-lain khususnya dalam upaya untuk mengambil sebuah keputusan atau tindakan. Sehingga keakuratan dalam menakar segala sesuatu mestinya didasari oleh jangkauan kemampuan diri yang jelas, guna mempresisikan diri dimanapun pada posisi yang tepat dan tidak menimbulkan kekecewaan–kekecewaan dalam hidup bebrayanan. Dalam berkehidupan sehari-hari objektifitas sering dikaitkan dengan keluasan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang. Apakah itu menjadi satu-satunya acuan? Ketulusan yang bagaimana yang patut ditanting? Apa yang menjadi parameter kesungguhan niat kita dalam menutupi lubang-lubang ketidaktulusan hati agar kita tidak terjungkal di lubang-lubang kerugian?

Dan marilah kita duduk bersama, melingkar dalam majelis egaliter Sanggar Kedirian. Dimana kita bisa sinau bareng antara satu dengan yang lain dengan sangat terbuka, keterbukaan dalam sinau bareng ini, justru diharapkan dapat mengajarkan tentang tanggung jawab bahwa apa yang akan disampaikan adalah muatan ilmu atau informasi yang memiliki landasan sumber data yang bisa dipertanggungjawabkan validitasnya, bukan hanya asal bicara. Bahkan guyonan pun mampu dikontrol pada batas proporsi, ritme, takaran serta dosis yang tepat. Kata orang Jawa, “Empan papan lan ngerti kahanan”, sehingga tidak kelegen maupun kengidulen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *