Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian, Malam Sabtu Legi 1 Maret 2018

Barangkali saat mengetahui tema kali ini, dalam benak beberapa sedulur Sanggar Kedirian langsung mengasosiasikannya dengan kontestasi pemilu saat ini. Dan itu sah-sah saja. Kebetulan frasa pertama dalam tema kali ini sering muncul akhir-akhir ini. Duh, karena terlampau sering, rasanya malah kelegen. Maka agar kelegene ora kenemenen, dalam pra-rutinan pembahasan tema kemarin ditambahi dengan dua frasa lainnya: polah-pulih. Selain rimanya berimbang, frasa polah-pulih berfungsi untuk menambahi kejangkepan dalam resolusi pandang kita.

Contoh gampangnya ketika kita mau makan. Terlebih dahulu, baik sadar maupun tidak, kita akan memproses makanan yang akan dimakan. Halal atau haram, enak atau tidak enak, mahal atau murah, dan masih banyak kemungkinan lain yang kita pertimbangkan sebelum memakan sesuatu. Itulah contoh memilah dan memilih.

Apakah berhenti sampai di situ saja, kan ya tidak. Proses polah-pulih yang kita lalui masih panjang. Bisa dengan melanjutkan aktivitas kembali seperti bekerja atau tidur; berkeringat atau kentut; buang air besar atau kencing. Jika ini tidak terjadi alangkah mbededeg perut kita.

Itu masih contoh pilah-pilih dan polah-pulih dalam konteks terkecil (mikro), yaitu memproses makanan. Kalau mau simulasi lain, silahkan mentadabburi sendiri. Syukur kalau mau membagikan hasil tadabburnya untuk disinauni bareng. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Yang penting jangan berhenti dan berpuas diri pada kata “pilih”, sebab setelah memilih masih ada resiko yang akan kita tanggung. Kalau cuma berhenti di situ, pembicara dalam seminar sosialisasi pemilu juga bisa.

Sayangnya di situlah kelemahan saat ini. Daya pilah dibatasi. Kita tidak punya pengetahuan yang cukup mengenai sesuatu yang akan kita pilih. Meskipun itu adalah orang terkenal sekalipun. Kita tidak benar-benar tahu bagaimana kualitasnya, akhlaknya, hidupnya, kisah cintanya, motivasinya, visi-misinya, sampai dengan kebijakannya terhadap isu-isu yang sedang terjadi.

Seperti cinta yang datang karena terbiasa, pun kita akhirnya terbawa kebanyakan orang yang fokus pada calon yang sudah dipilihkan. Dan lupa dengan konsekuensi yang selalu menyertai pilihan kita. Alhasil kita memilih pemimpin tanpa sedikit pun mengetahui konsekuensinya.

Rasa-rasanya paragraf terakhir dalam salah satu tulisan Mbah Nun yang terbit pada tahun 2002 dengan judul “Akal itu Ujung Jari Tuhan” bisa menjadi bahan refleksi. Begini isinya:

“Sudah jelas-jelas bikin sakit perut, tetap terus dimakan: itulah politik Indonesia. Sudah ratusan kali bikin bingung dan susah, tetap terus dijunjung-junjung: itulah bangsa Indonesia. Sudah dirasakan pahit dan pahit dan pahit, tetap saja digelari gula: itulah kepribadian Indonesia. Sudah terang-terangan menyusahkan rakyat, tetap saja diidolakan: itulah otak Indonesia. Layang-layang diperebutkan dan kertas cek diinjak-injak: itulah mata pandang Indonesia. Emas disepelekan, tinja diembus-embus: itulah hidung Indonesia. Terus-menerus salah pilih, tidak mau mengakui bahwa ia salah pilih, tidak mau belajar agar tak lagi salah pilih: itulah ilmu pengetahuan Indonesia.”

Monggo mengembarai tema kali ini dengan berbagai macam kemungkinan yang ada. Hasilnya bisa kita rembuk dalam rutinan Sanggar Kedirian yang Insya Allah dilaksanakan pada Malam Sabtu Legi esok. Matur nuwun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *