Reportase Rutinan Sanggar Kedirian 1 Maret 2019

Ada yang berbeda dalam rutinan Sanggar Kedirian pada malam itu. Beberapa hari sebelum rutinan berlangsung, salah satu sedulur SK mengabarkan di grup whatsapp bahwa akan ada tasyakuran alias makan-makan sebelum acara rutinan dimulai. Entah apa maksud dibalik pemberitahuan itu, yang jelas iming-iming akan ada acara makan-makan ternyata membuat orang-orang yang sering datang terlambat, seperti saya ini, menjadi datang lebih awal.

Ternyata datang lebih awal tidak ada salahnya. Saya bisa tahu secara langsung bagaimana repotnya sedulur-sedulur mempersiapkan acara rutinan. Ada yang bersih-bersih lokasi, membuat kopi dan camilan, mempersiapkan sound system, dan masih banyak lagi. Semua itu mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh sebagaimana even organizer profesional.

“Hanya ini yang bisa kuperbuat,” kata sedulur SK yang sedang menuangkan kopi ke dalam gelas plastik kecil. Tak lama kemudian, terdengar lantunan surat Luqman dari arah sedulur-sedulur yang sudah melingkar. Ia bergegas bangkit, membagikan kopi dan camilan sebagai penghangat suasana rutinan malam itu yang mengambil tema Pilah-Pilih Polah-Pulih.

Apa maksud dari tema tersebut? Reportase kali ini sebisa mungkin berusaha menguraikannya.

“Barangkali saat mengetahui tema kali ini, dalam benak beberapa sedulur Sanggar Kedirian langsung mengasosiasikannya dengan kontestasi pemilu saat ini,” kata sedulur yang membacakan mukadimah. Itu sah-sah saja karena saat ini kita memasuki masa “pilah”. Meski harus disadari pula bahwa yang kita pilah ini sebenarnya sudah dipilihkan oleh orang lain, begitu penjelasan tambahan dari Kang Gatot Wisanggeni.

Sebenarnya tema tersebut bisa diperluas lagi konteksnya. Misalnya, jika ditarik untuk nyinyiri para jomblo pitulikuran: jangan hanya pilah-pilah saja, ada baiknya untuk segera memilih agar bisa segera polah dan bisa segera pulih. Hmm. Kuy, camkan!

Kadangkala ada ketakutan untuk menentukan pilihan. Apalagi jika memikirkannya terlalu matematis. Padahal sebenarnya sedari proses memilah kita sudah diperjalankan secara rahasia. Sebagaimana Allah telah menentukan kita lahir dari rahim ibu yang mana, begitulah salah satu kandungan hadis yang dijelaskan oleh mbah Bustanul Arifin.

Beberapa kandungan lainnya ialah tidak mungkin manusia dapat memutuskan dirinya masuk surga atau neraka kecuali karena sifat Rahimnya Allah. Akan tetapi jangan lantas meniadakan amal baik dan buruk. Amal baik di dunia ini adalah ikhtiyar, polahe manungso, barangkali dengan itu Allah meridhoi kita. Di sinilah sikap tawakkal memegang peranan penting. Supaya kita bisa menghikmahi segala persoalan yang ada.

Sebagaimana penjelasan mbah Bustanul Arifin selanjutnya-yang menceritakan kisah nabi Nuh, nabi Yusuf, nabi Ayub, dan nabi Yunus-supaya kita dapat mengambil hikmah dari kisah-kisah beliau. Misalnya dengan pertanyaan, mengapa diantara keempat nabi tersebut hanya nabi Nuh yang digelari ulul azmi? Sebab selain nabi Nuh dikaruniai umur yang panjang, beliau juga diberi cobaan yang lebih berat. Coba bayangkan: selama masa dakwah yang hampir satu abad, hanya beberapa puluh orang yang mau menerima ajakan beliau. Otomatis “polah” yang nabi Nuh kerjakan lebih banyak dibanding ketiga nabi yang disebutkan. Belum lagi jika ditambah langkah yang beliau ambil untuk memulihkan kondisi alam pascabencana banjir bandang.

Begitulah. Rutinan malam itu kemudian dipungkasi dengan sholawatan dan doa.

(Zakaria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *