Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian, Malam Sabtu Legi 5 April 2019

Dalam hidup kita tak akan lepas dari yang namanya pilihan. Jika tersedia pilihan antara A dan B, kita masih diseret untuk memilih A atau B. Meskipun sedianya ada banyak kemungkinan-kemungkinan pilihan dalam kondisi hidup yang penuh dengan polarisasi ini. Dalam pertunjukan ritual pesta demokrasi lima tahunan ini, kita yang saat ini sedang berada di tengahnya atau mungkin justru terlibat di dalamnya merupakan gambaran fakta kehidupan manusia saat ini.

ANGKA ATAU NILAI?
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia hampir tidak pernah lepas dari yang dinamakan wasilah (cara) dengan berbagai bentuk variabelnya.  Disadari atau tidak, banyak orang di zaman sekarang ini yang menukar antara keduanya. Menjadikan yang ghoyah (tujuan) sebagai wasilah dan sebaliknya, menjadikan yang wasilah sebagai ghoyah. Fakta sebagian masyarakat saat ini, akan kita temukan banyak persepsi bahwa untuk bisa menikmati kehidupan ini caranya adalah harus menjadi orang kaya, memiliki uang yang banyak, memiliki mobil, smartphone canggih, rumah mewah, mengetahui segala informasi ter-update dan lain sebagainya. Namun justru semuanya itu dianggap seolah-olah ghoyah dan bukan lagi sekedar wasilah. Karena menganggap dengan jalan itulah kepuasan hidup akan tercapai.

Hal lain yang lebih rancu adalah fenomena yang dilakukan oleh sebagian ormas, partai atau bentuk padatan-padatan lain yang kian hari kian memamerkan “kepentingan parsialnya” sendiri. Dengan cara mendayagunakan pengikutnya, kemudian membungkusnya dengan bahasa-bahasa yang sangat klise “bentuk loyalitas”, “takzim”, “manut grubyug”, “opo jare”, “sami’na wa atha’na” yang seolah-olah semua ini adalah ghoyah. Melalui sistem keanggotaan yang mengikat justru dimanfaatkan sebagai “kerangkeng” untuk membelenggu kedaulatan para pengikutnya. Seorang cendekia dan ilmuwan muslim dari Andalusia yang hidup pada masa Kekaisaran Abbasiyah, bernama Ibnu Rusyd pernah berkata, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah yang batil dengan agama”. Atas dasar fakta belakangan ini, sepertinya pesan Ibnu Rusyd yang juga seorang hakim dan seorang fisikawan ini sangat relevan dan memang bisa dikatakan sedang menimpa negeri ini. Sehingga tidak heran ketika pada masa-masa menjelang pemilu ataupun pilkada banyak para tokoh politik melakukan “akrobatik wasilah” dengan cara bersilaturahmi kepada para ulama, yang tentunya untuk mencari simpati dan dukungan dari sang ulama, sekaligus sebagai perlambang “restu” dari sang ulama dan ini merupakan senjata ampuh untuk menarik simpati massa.

Bukankah salah satu ciri para ulama paham mengenai sirr (kerahasiaan) yang harus benar-benar dijaga? Karena atas riyadhoh-nya jiwa dan nafsunya sudah terlatih untuk dapat melawan kecenderungan-kecenderungan yang berdampak buruk, terlebih sebuah strategi kebijakan politik karena merupakan kerawanan bagi perpecahan umat. Bukanlah sebuah strategi namanya, kalau semua orang tahu apa alasan dibalik semua strateginya sang ulama? Ataukah mungkin ini justru strategi dari wasilah sang Ulama itu sendiri?

PERJALANAN DIRI
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna penciptannya. Dengan segala kelengkapan komponen dalam dirinya, baik hardware maupun software, manusia memiliki kebebasan untuk memilih wasilah dengan tetap berada pada level ahsanu taqwiim ataukah justru jatuh terprosok dalam asfala saafiliin. Lantas siapa sebenarnya yang pantas menentukan standar hidup manusia saat ini?

Begitu pula dengan pengaruh kecanggihan teknologi informasi yang kian membabi-buta membuat kita harus “melek informasi”, berusaha untuk tetap berpijak pada kesadaran ilmu. Sehingga bukan sekedar pemahaman linier tentang segala informasi apa saja yang kita ketahui melainkan juga kesanggupan untuk memiliki kepekaan bahwa tidak semua informasi harus kita ketahui.

Hingga tak pelak, semakin hari permasalahan hidup semakin menjadi. Kiranya kita harus butuh untuk selalu mengeja konteks. Jangan hanya fasih membaca teks. Karena dalam dunia kehidupan, semuanya serba kompleks. Yang mengharuskan seseorang untuk melakukan gerak refleks. Sehingga tema kali ini, akan mengingatkan kita kembali tentang apa tujuan manusia diciptakan dan bagaimana fitrah manusia diciptakan. Di manakah ghoyah kehidupan ini dapat kita temukan?

Permasalahan hidup memang harus ada agar tercipta penyelesaian. Jika hidup mudah-mudah saja, lantas mengapa Tuhan dengan repotnya menjadikan manusia sebagai khalifah di Bumi? Wallahu A’lam. Tentunya Tuhan lebih tahu. Tapi, yang pasti adalah kebenaran selalu dicari dimanapun dan kapanpun.

(Redaksi Sanggar Kedirian)

2 Balas ke “LET’S G(h)OYAH”

Tinggalkan Balasan ke hartono Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *