Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian, Malam Sabtu Legi 14 Juni 2019

Bodo artinya lebaran, tapi harus benar cara mengucapkannya. Bodo istilah lain dalam bahasa Jawa yang artinya lebaran. Bodo kalau salah ucap bisa bermakna bodoh sehingga ini menjadi menarik dikaji apakah kita merayakan hari raya secara tepat atau malah tergiring ke hal-hal yang bodoh dan jauh dari nilai hari raya Idul Fitri.

Hiruk pikuk mudik menjadi pemandangan umum setiap tahun. Macet di jalan sudah menjadi rutinitas. Desa menjadi ramai oleh kedatangan orang-orang asli desa yang tinggal di kota. Hari-hari biasa dengan rutinitas perkotaan serentak libur untuk sejenak.

Momen Idul Fitri menjadi waktu yang pas untuk mendatangi sangkan paran. Sungkem dan memohon restu adalah agenda utama ketika berkunjung ke orang yang lebih tua.

Pemberitaan di televisi juga demikian. Para politikus sibuk bersilaturahim. Ada juga yang mengadakan acara open house. Membuka rumah untuk khalayak umum bebas bersalaman dengannya.

Keadaan ini semestinya menjadi cermin dan momen untuk melupakan dan memaafkan segala pergulatan politik yang sebelumnya terjadi. Tingkah konyol perpolitikan luluh saat datang Idul Fitri ini.

Mbah Nun dalam tulisannya berjudul “Mudik ke Rumah Fitri”, “Tahap paling awal dari Mudik adalah belajar kembali menjadi manusia, manusia saja, atau manusia thok, tanpa embel-embel. Kalau kita Menteri, mudik adalah belajar tidak menjadi Menteri. Kalau kita penguasa, bersimpuh di lutut Ibu di kampung harus dengan terlebih dulu melepas baju penguasa. Jabatan, pangkat, reputasi, prestasi, status dan macam-macam lagi, adalah pakaian, jas, jaket, dasi, emblim, bahkan banyak yang fitri-nya sekedar bedak, pupur, gincu, kosmetika…”

Mungkinkah Indonesia dengan diwakili para pemimpinnya benar-benar melakukan “fitri”. Indonesia Bodo atau Indonesia yang berhari raya karena kembali ke kesuciannya. Atau Indonesia memilih dirinya menjadi Indonesia Bodoh dengan terus melakukan pertengkaran?

Indonesia sudah tidak boleh lagi salah baca dan ucap. Indonesia bodo, kalau salah ucap dan salah baca bisa berarti bodoh yang bisa menjadikan kita menjadi salah merayakan hari raya dengan kebodohan. Secara universal, Indonesia tidak boleh lagi salah baca dan salah ucap secara budaya ekonomi dan politik.

Atas hal diatas, maka kami mengajak dulur-dulur untuk melingkar sinau bareng di rutianan Majelis Masyarakat Maiyah Sanggar Kedirian untuk sinau Indonesia Bodo, Indonesia yang benar-benar “fitri” pada Jumat malam Sabtu Legi, 14 Juni 2019 di Taman Hutan Kota Joyoboyo Kota Kediri. Mulai pukul 20.30 WIB sampai selesai.

Salam lebaran mohon maaf lahir dan batin.

Sinau Bareng rutin malam Sabtu Legi di Gedung GNI, Kota Kediri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *