Reportase Sanggar Kedirian 10 Mei 2019

Lantunan Doa Tahlukah, Hizb Nashr, dan wirid Thibbil Qulub sebagai pembuka rutinan malam itu. Meski hampir tidak terdengar karena tenggelam oleh ramainya kendaraan yang berlalu lalang, namun tidak menyurutkan semangat sedulur Sanggar Kedirian untuk melingkar di lokasi baru: Taman Hutan Jayabaya.

Setelah wirid selesai, Kang Adnan menyampaikan poin-poin hasil dari Syukuran ‘Ajibah Maiyah pada waktu acara Padhang Mbulan kemarin. Dari banyaknya poin yang disampaikan, semakin menambah rasa syukur dalam benak saya-barangkali juga sedulur yang lain-karena dipertemukan dengan Maiyah. Dan shalawat Ya Thaybah yang  dibawakan oleh Kanjeng Kustik adalah salah bentuk syukur sebelum acara inti dimulai.

Para penatua Sanggar Kedirian membagi jamaah yang hadir menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok mempunyai tugas membuat tiga pertanyaan yang berkaitan dengan tema Wayahe Moco. Pertanyaan tersebut kemudian didiskusikan bersama-sama.

***

“Lebih dulu mana membaca dengan mengerti yang harus dibaca?” tanya perwakilan kelompok dua.

“Membaca ya membaca. Tidak perlu acuan untuk memulainya,” jawab perwakilan kelompok empat.

Sementara kelompok satu menjawabnya dengan menyodorkan sudut pandang lain, “Itu kebutuhan atau dibutuhkan?” Hanya kesadaran dari diri kita masing-masing yang mengetahui jawabannya. “Lantas bagaimanakah cara untuk menumbuhkan kesadaran?”

Kelompok tiga menjawabnya dengan menekankan perlunya menyelam ke dalam diri, berintropeksi. Misalnya dimulai dari hal sepele mengubah kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Sementara kelompok dua menjawabnya dengan teori kesadaran, “Ada beberapa tahap dalam kesadaran: pertama kesadaran magis atau gerak refleks. Kedua, kesadaran naif: karena masih baru, maka ada sedikit keraguan dalam bertindak. Ketiga, kesadaran masif: mulai melakukannya dalam banyak hal. Dan terakhir, kesadaran praksis atau kesadaran tindakan.”

***

Sebelum acara dipungkasi dengan pembacaan shalawat, para penatua membekali sedulur-sedulur bagaimana cara menyikapi opini di media sosial yang menyudutkan Mbah Nun. Bisa dengan mengintrospeksi diri, jangan-jangan kita sendiri termasuk pihak yang menyudutkan. Bisa juga dengan merecehkannya dan mengisinya dengan konten yang mendinginkan isu.

Sebab semua pertarungan di media sosial, jika dilihat dari jarak pandang yang agak jauh, sebenarnya tidak lebih dari rekayasa para pemilik modal.

Sinau Bareng rutin malam Sabtu Legi di Gedung GNI, Kota Kediri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *