Pambuko rutinan Sanggar Kedirian, malam Sabtu Legi tanggal 19 Juli 2019

Di sebuah pendopo makam waliyullah, obrolan ini terjadi.

“Mas, boleh minta rokok?” tanya seorang pemuda kepada teman ngobrol ngalor-ngidul yang baru dikenalnya.

Monggo, monggo. Anggap rokok sendiri saja, Mas,” jawab pemuda yang sedari tadi tidak pernah mencopot pecinya.

“Terima kasih,” tiba-tiba ia bertanya, “Sampean anak Maiyah, ya?”

“Iya. Kok tahu?” 

“Itu, ketahuan dari peci yang Sampean pakai,”

Hoalah, Mas. Tadi dalam hatiku terlanjur geer. Tak kira ngarani cah Maiyah karena hablum minan naas-ku pada Sampean dengan menjadi teman bicara dan memberi rokok sudah baik. Ternyata cuma karena peci yang kupakai ini. Hmmm…” gerutu pemuda berpeci.

“Hehehe, guyon kok, Mas. Biar tidak sepaneng dalam menjalani hidup. Di Maiyah kan juga diajarkan seperti itu,” 

“Lho, sampean kelihatannya tahu banget soal Maiyah. Sering Maiyahan?”

“Cuma pernah sesekali, Mas. Tapi kalau ditanya makna Maiyah yang sebenarnya saya masih mencari alias belum tahu,”

***

Apa sih sebenarnya Maiyah itu?

Mungkin pertanyaan semacam itu pernah mengemuka dalam benak kita. Jawabannya pasti beragam; ada yang mencari makna kata ma’a dulu, kemudian mendasarinya dengan nukilan peristiwa hijrah Kanjeng Nabi yang sempat mampir di dalam gua tsur bersama Abu Bakar; ada juga yang mendasari jawabannya dengan teologi segitiga cinta; bahkan ada yang dengan kepolosannya mengasosiakan maiyah dengan simbol peci bundar berwarna merah-putih sebagaimana ilustrasi cerita di atas.

Lantas jawaban manakah yang paling benar? Entahlah. Semua jawaban itu menggambarkan keotentikan dan kedaulatan masing-masing individu. Juga, di Maiyah, kita diajari bahwa jawaban-jawaban itu sebatas tafsir kebenaran yang belum final. Kebenarannya harus diuji lagi dengan variabel-variabel lain. Seandainya variabelnya sudah habis, belum tentu hal itu benar. Sebab kebenaran hakiki hanya milik Allah, Sang Pemilik Maiyah.

Apakah pambuka sinau bareng ini sudah cukup sebagai pengantar untuk memasuki tema malam ini? Kalau belum, silakan ditambahi dan didiskusikan bersama sebelum menyelam dalam tema: bermaiyah-dengan prefiks (awalan) “ber” sebagai pembentuk verba (kata kerja).

Sinau Bareng rutin malam Sabtu Legi di Gedung GNI, Kota Kediri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *