Reportase rutinan Sanggar Kedirian, 19 Juli 2019

Mendung sedari pagi, angin pergantian musim yang dingin, dan Mas Jeje, sejarawan Komunitas Pasak (Pelestari Sejarah-Budaya Kadhiri), turut membersamai rutinan Sanggar Kedirian malam itu yang mengusung tema Bermaiyah.

Cak Adnan, moderator, mempersilahkan sedulur-sedulur yang hadir untuk bertanya kepada Mas Jeje.

“Bagaimanakah sejarah Kediri?” tanya sedulur yang tidak mau disebut namanya.

“Hmm, Kediri ya…” gumam Mas Jeje sembari pandangannya menerawang seolah babakan sejarah Kediri terhampar di depannya. Benar saja, tak lama setelah itu beliau menerangkan penyebutan nama Kediri yang bukti sejarahnya berasal dari Prasasti Ngantang yang menyebut nama “Kadhiri”.

Kemudian secara beruntun Mas Jeje menerangjelaskan pembabakan sejarah Kediri sejak masa lampau sampai masa kemerdekaan Indonesia. Satu hal penting yang bisa saya catat adalah toleransi antar umat beragama telah diajarkan oleh moyang kita. Terbukti di Goa Selomangleng ada simbol-simbol sejarah yang menyatakan adanya kepercayaan pada masa itu: Budha, Waisnawa, Tantrayana.

***

Sebagian besar dari kita pasti sering mendengar kalau Maiyah berasal dari kata Ma’a yang artinya bareng, bersama. Bersama-bersama dengan diri sendiri, makhluk lain, Kanjeng Nabi dan Allah. Bisa juga dikatakan bahwa Maiyah adalah interaksi antara makhluk dengan Sang Khaliq. Tiada yang dapat membatasi interaksi tersebut, bahkan ruang dan waktu sekalipun, begitu miturut Pak Bus, Sifat Maiyah di Sanggar Kedirian. Malam itu beliau tidak bisa hadir karena sedang menunaikan ibadah haji. Meski begitu beliau masih menyempatkan diri turut membersamai sedulur-sedulur Sanggar Kedirian via video call. Allahumajj-‘alna mitslahu.

Lewat video call yang terputus-putus, Pak Bus membagikan hasil tadabbur beliau tentang Maiyah. Secara syariatnya, Maiyah adalah kesadaran sebagai makhluk dan hamba yang hanya bergantung kepada-Nya. Meski manusia adalah makhluk yang lebih unggul daripada makhluk lain, bukan lantas membuatnya menjadi makhluk arogan. Sebagai makhluk sosial, manusia dalam thariqah ke-Maiyah-annya tidak bisa terlepas dari manusia lain, makhluk lain, dan Allah. Sementara Maiyah secara ma’rifat adalah sebuah pembelajaran. Artinya kalau sudah tahu maka harus dijalankan!

Matur sembah nuwun, Pak Bus.

***

Sesi ketiga malam itu diisi dengan dialog bebas. Ada yang sekedar sharing seperti Kang Zainuri yang menyatakan bahwa bermaiyah itu seperti slogan YNWA-nya Liverpool- tidak membiarkan sedulur-sedulur lainnya terasing sendirian-dan Zaki yang membedakan Maiyah dengan ormas-ormas lain terletak pada kesadaran berorganismenya. 

Sebelum Mas Jeje mengajak sedulur-sedulur Sanggar Kedirian mengirim doa kepada ahli luhur Kadhiri-an, ada sedulur yang curhat. Ia menceritakan tentang beberapa orang yang mengatasnamakan de-mi mem-bas-mi ke-syi-rik-an kemudian dengan mudahnya merusak benda dan lokasi bersejarah. Menurut Mas Jeje, dan sebagian dari kita juga mengamininya, hal itu tidak bisa dibenarkan. Sebab syirik letaknya bukan pada benda melainkan pada niatan diri masing-masing. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *