Pambuko rutinan Sanggar Kedirian, 23 Agustus 2019

Bulan Zulhijah merupakan bulan yang monumental bagi Sanggar Kedirian. Sebab di bulan ini, 3 tahun yang lalu Sanggar Kedirian memasuki edisi pertama yang rutin digelar sampai saat ini. Meskipun sejak tahun 2012 diadakannya Kedirian sudah berkumpul dan duduk melingkar para penggiat Maiyah Kediri hingga saat ini menumbuhkan generasi yang bernama Sanggar Kedirian, yang tetap rutin diselenggarakan setiap malam Sabtu Legi. Sejak awal kebersamaannya, majelis ini memang diniatkan sebagai ruang bagi kalangan siapapun untuk sinau bareng, menumbuhkan kesadaran dan membangun kediriannya sendiri. Sehingga dalam hal ini, subjek utamanya adalah manusianya sendiri bukan eksistensi wadag yang diagungkan.

Berkembangnya jumlah penggiat Maiyah dimana-mana nampaknya menjadi fenomena belakangan ini. Demikian juga yang terjadi di Sanggar Kedirian. Antusiame anak-anak muda yang kita sebut sebagai generasi milenial yang datang ke Sanggar Kedirian semakin terus bertambah. Tentu saja ini merupakan sebuah berkah lain di Sanggar Kedirian. Mereka adalah generasi yang senantiasa dibimbing oleh Allah untuk menerima hidayah berupa ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dari berbagai acara Maiyahan, baik mereka dapatkan melalui media sosial maupun acara-acara Maiyahan yang dibersamai oleh Mbah Nun secara langsung. Dan saat mereka merindukan kebersamaan itu, simpul Maiyah lah yang menjadi pengobat rindunya. Dan inilah yang menumbuhkan optimisme masa depan Indonesia. Sebagaimana yang yang disebutkan di Al Quran, ialah Generasi Lima Lima Empat (Tematik Surat Al Maidah [5]: Ayat 54), dimana di situ Allah menggambarkan sifat kaum baru yang Allah mencintainya dan mereka mencintai Allah. Sehingga jangan sampai karunia Allah ini sekedar menjadi euforia belaka.

Sejalan pula edaran dari Koordinator Simpul Maiyah kepada seluruh simpul Maiyah tentang peneguhan kembali niat bermaiyah maka, Sanggar Kedirian mencoba untuk memaknai itu sebagai “Niti Priksa Lampah” yaitu menelaah dan mempelajari langkah kita selama ini. Dengan asumsi pemahaman bahwa subjek utamanya adalah diri kita sendiri. Sesuai dengan semboyan “Perjalanan diri mengenal Diri”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *