Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 10 Januari 2020

Judul tema kali ini, menurut saya, terasa agak-gimana-gitu. Barangkali karena terbiasa dengan judul yang agak ke-jawa-jawa-an dan baru kedua kali ini menemui tema rutinan yang keminggris. Alhasil saya terpaksa membuka Google Translate untuk mengetahui artinya. Bukannya mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru bingung dan tidak pedhe ketika akan menulis pambuka ini. Nah, di tengah kebimbangan itu secara klise saya teringat dawuhe Mbah Nun: Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat. Seketika saja saya langsung menulis sembari berujar, “Sebenarnya yang saya bicarakan dari tadi itu tidak penting.” Ada yang lebih penting dari itu, yaitu pembahasan mengenai organisme Maiyah. 

Dari dulu hingga kini bahkan mungkin sampai ke-1001 esok harinya lusa, kita akan terus mendialektikakan lelaku berorganisme yang sedang kita jalani. Selain karena di dunia ini tidak ada yang final juga karena kita lebih familiar dengan sistem organisasi yang rigid, kaku, dan padat. Ketika dihadapkan dengan organisme yang seolah-olah nampak cair dan alamiah, kita gagap memahaminya. Misalnya, dalam banyak forum diskusi yang sering kita perdebatkan cuma tentang kecairan dan kepadatan sebuah organisme. Bukankah masih ada proses lainnya; penguapan, pertumbuhan, perkembangbiakan, pembusukan, dan masih banyak lagi lainnya; termasuk yang ditiadakan ialah Sang Pemilik Organisme.

Di situlah letak kamanungsane kita. Seandainya kita diciptakan sebagai batu pasti auto madhep-mantep pada tatanan organisme-Nya sebagaimana yang disebutkan dalam al-Isra ayat 44. Disitu ada frasa walakin la tafqahuna, tetapi kamu tidak mengerti. Mbah-mbahane dewe pernah membuat rumusan bahwa wong pinter kui durung mesti ngerti, orang pintar itu belum tentu mengerti. Untuk lebih mengerti alangkah lebih baiknya jika dalam pembahasan Problem Solving Organisme kali ini kita lebih mengedepankan akal daripada syahwat untuk memenangkan argumentasi diri sendiri. 

Jadi, monggo kita saling urun rembug untuk mendalami organisme-Nya. 

Sinau Bareng rutin malam Sabtu Legi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *