Mereka yang Ndhedher Angin dan Ngunduh Badai

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian "Ngunduh Wohing Pakarti, 14 Februari 2020


Sanggar Kedirian (SK) adalah  suatu wadah untuk menempa diri. Bagaimanapun keadaannya rutinan harus berjalan. Dengan fasilitas atau tidak, kesempatan bertemu selapan sekali harus diistiqomahi sebagai media berbagi ilmu, kebijaksaan, dan kebahagiaan.

Sebagaimana yang dilakukan Mas Adi malam itu. Dia selalu berpesan "hore" dalam banyak kesempatan. Menurutnya dengan ber-hore segala kerisauan akan dibereskan sendiri oleh Allah. Metodenya seperti ini: sebelum bertawasul, lupakan dulu semua masalah yang ada; bayangkan sesuatu yang indah-indah; bisa pantai, pegunungan atau bayangan indah lainnya. Jika visualisasinya sudah selesai baru dimulai tawasulannya. "Sudah (membaca) alhamdulillah masak susah," begitulah kata Kang Adi menularkan energi kegembiraannya.


Barangkali karena ketularan energi dari Mas Adi, Kang Tri Wibowo membawakan lagu ciptaannya sendiri yang diberi judul "Sinau". Uniknya, lagu ini di-mix dengan lagu anak-anak yang bunyinya begini:

//Ayo kanca dolanan ning jobo//Padhang mbulan padhange kaya rina//Rembulane sing awe-awe//Ngelingake ojo turu sore-sore//

Penasaran ingin dengar lagunya? Monggo bisa klik disini  https://youtu.be/gytBmHK8NRw.


Ndhedher dan Ngunduh Wohing Syukur

Sedulur-sedulur yang datang ke rutinan SK mayoritas anak muda dan cowok. Tapi malam itu seorang ibu rumah tangga ditemani oleh suaminya ikut melingkar bersama. Dialah Bu Ema dan Pak Sugeng. Perjalanan mereka sangat panjang dan patut dipotret sebagai pembelajaran bagi kita yang masih muda. 

Tunggu edisi khusus tentang reportase perjalanan mereka! Sekarang lebih baik mari kembali ke reportase rutinan ini. 

Adalah Kang Ali, sedulur SK spesialis belakang layar, pada malam itu turut urun rembug. Bisa mendengarnya berpendapat di forum besar adalah kelangkaan yang hanya bisa disamai dengan jumlah badak bercula satu. Ia sedikit membagikan pengalam tentang kegiatan pelestarian alam; bersama lingkar LJR  mengupayakan reboisasi dan menebar bibit ikan di beberapa titik yang bisa dijangkau. "Orang-orang sering mengaji, wudhu menggunakan air suci. Namun tak pernah dibahas dan diupayakan bagaimana agar terus dapat air bersih sampai generasi berikutnya. Salah satu tujuan tanam pohon ya untuk ini," jelas Kang Ali mantap.


Dari sisi lain, Kang Zainuri berpendapat bahwa ngunduh tidak selalu berupa woh (buah). Tanaman pisang, misalnya, sudah bisa diambil hasilnya meski belum berbuah; daun, ontong, pelepah. 

Mas Adi menimpali dengan petuah-petuah motivasinya:

  1. Agar pakarti sehari-hari tetap positif tipsnya ialah, saat bangun tidur membaca Alhamdulillah kemudian dalam hati ditanamkan untuk siap senang "hore" untuk diajak outbond seharian oleh Gusti Allah;

  2. Tips selanjutnya agar pakarti tetap positif ialah mengatur pakarti dalam bersosmed, utamanya Facebook. Akun Facebook yang selalu membagikan postingan negatif, lebih baik diblokir saja. Bangun tidur sudah diawali dengan Alhamdulillah dan bahagia, masak harus lenyap begitu saja hanya karena Facebook-an.


Benang merah dari beberapa pendapat di atas ialah ada tidaknya unduhan yang bisa diambil dari sebuah proses tergantung cara penyikapan terhadap suatu hal. Apakah bisa mengambil hikmah kemudian bersyukur atau justru tidak mendapat apa-apa? 

Namun dalam Surat Ibrahim ayat 7 disebutkan, lainsyakartum la azidannakum wa lainkafartum inna adzabi lasyadid. Menurut Pak Bus bisa diartikan: terlambat bersyukur dapat mengakibatkan kesalahan, itulah yang biasa disebut kufur.


Kemudian Pak Bus mulai menerangkan makna "Ngunduh Wohing Pakarti". Ngunduh (download). Wohing dari akar kata woh yang artinya adalah hasil, sementara pakarti dari kata karto yang artinya menang besar-karena diakhiri -i menjadi kemenangan kecil.

Sementara makna secara istilahi-nya oleh Pak Bus dipadu-padankan dengan pepatah lama, "Siapa yang menabur angin, akan menuai badai." Artinya, tema malam ini sama dengan hukum sebab akibat yang akan terus berlanjut. Misalnya ketika saat disakiti orang lain namun tidak membalas, barangkali dengan itu membuat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan akan ditutupi oleh-Nya. Amin.


Continue reading Mereka yang Ndhedher Angin dan Ngunduh Badai

NGUNDUH WOHING PAKARTI

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 14 Februari 2020


Sedulur-sedulurku, rasa-rasanya dunia saat ini sedang kronis dan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera sembuh. Saat menulis pambuko ini, sebuah virus yang konon sangat berbahaya sedang mewabah bahkan mulai menjangkiti alam bawah sadar kita. Kemudian banjir yang terjadi hampir di setiap pemukiman padat penduduk. 

Seperti inikah wujud balasan dari Tuhan bagi hambanya yang berdosa? Entahlah, adalah jawaban sementara yang lebih bijak daripada terburu-buru menghakimi seperti share-share-an yang bersliweran dalam grup Whatsaap.

Yang berhak menghakimi dan membalas hanyalah Dia. Kita cuma diberi sedikit spoiler sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Zalzalah: fa maiya'mal mitsqala dzarratin khairai yarah, wa maiya'mal mitsqala dzarratin syarrai yarah, barang siapa berbuat kebaikan dan keburukan se-dzarrah niscaya akan diperlihatkan (balasannya).

Entah kebetulan atau tidak dalam khazanah Jawa hal semacam itu diistilahkan sebagai ngunduh wohing pakarti. Bagaimana asal-usul istilah tersebut, saya tidak tahu. Silahkan bagi yang tahu untuk menjelaskannya.

Yang menggelitik benak saya justru pertanyaan-pertanyaan tidak penting: kapan waktunya ngunduh perbuatan kita? Apakah langsung saat itu juga sebagaimana di medsos atau menunggu esok pascamati? 

Jika ada yang ikut urun-rembug silahkan.

Seorang teman urun contoh kasus begini: jika yang ngunduh dampaknya orang lain bagaimana? Misalnya tetangga kiri-kanan yang ikut terdampak zina atau koruptor yang menggasak uang negara atau penebangan hutan yang membabi-buta sehingga menyebabkan ekosistem terganggu.

Simulasi-simulasi semacam itu pasti masih banyak lagi. Kalau tidak percaya coba buka Caknun.com kemudian carilah tulisan Mbah Nun "Khairon? Yaroh, Syarron? Yaroh". Barangkali kita bisa memulai tema Ngunduh Wohing Pakarti dari situ. Monggo....

Continue reading NGUNDUH WOHING PAKARTI