Obor Paseduluran

Review Tema Sanggar Kedirian 20 Januari 2017



Terdapat beberapa istilah dalam paseduluran, semisal ungkapan sedulur sinarawedi, kadang sentana, sedulur tunggal bayu, kadang tunggal wredha, trah sawadhah. Istilah lain yang diambil dari bahasa Arab: ukhuwwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah sebagai ungkapan agar selalu bersatu bagai tebu setagon yaitu buah tebu yang terikat oleh klaras daun tebu. Dalam membina persaudaraan tidak perlu memandang perbedaan karena sebenarnya perbedaan itu memberi manfaat besar dalam mengikat paseduluran yang sebenarnya.


Paseduluran bila diurai berakar pada wejangan lur yang artinya mencabut dengan mudah, kependekan dari luhur yang berarti mulia. Paseduluran dapat dimaknai sebuah keinginan mencapai derajat mulia walaupun harus merelakan keberadaan yang dimiliki terlepas. Melepas sifat adigang, adigung dan adiguna. Tidak peduli disebut bathang lelaku (seperti mayat berjalan, orang yang tidak bercita-cita tinggi) karena orang kebanyakan melihat bau kapine, orang terdekat sajalah yang dijadikan mitra.


Paseduluran dalam konteks basyariyah atau kemanusiaan sebagai kelanjutan wawasan wathaniyah, berbangsa dan bernegara yang sapadan. Berdasarkan QS. al-Hujurat: 13, manusia mempunyai kedudukan yang sama di bumi. Karenanya harus ngrakit paseduluran, bersahabat dan menjunjung tinggi kesamaan derajat, bahwa manusia adalah trah sawadhah dari Nabi Adam a.s. dan Ibu Hawa. Dalam berilmu pun mereka tunggal bayu yang menghormati kadang wredha yang mengajari kita berbagai pengetahuan.


Di awal perjumpaan, paseduluran merupakan wujud kesamaan hati dan keinginan. Saat di tengah perjalanan, jika terjadi perbedaan dalam wawasan maka segera dilupakan. Paribasan gemblung jinurung edan kewarisan, melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan kebanyakan orang, tetapi berhasil meski dibilang tidak umum. 


Apabila sudah hampir sampai di akhir perjalanan, paseduluran dibangun dengan sesanti dicacad ora gela dielem ora muyeng. Api paseduluran dibangun dengan prasasti yang ditatah dalam hati: walaupun dibuka aibnya tidak merasa sakit hati. Bukan karena tidak punya perasaan tetapi karena menghormati persaudaraan. Sebaliknya tidak akan merasa berbangga hati apabila dipuji-puji apalagi sampai muyeng, lupa diri.





*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul 'Arifin.


Continue reading Obor Paseduluran

Nol

18 Mei 2020

Review
Tema Sanggar Kedirian 22 September 2017

Kondisi kulminasi (titik tertinggi) dan kondisi antiklimaks (titik terendah) menyadarkan kita bahwa tiada lagi kekuatan yang kita miliki. Kita juga menjadi sadar bahwa kekuatan yang kita miliki sangatlah terbatas. Kekuatan manusia atau pun makhluk lainnya dari tidak ada menjadi ada kemudian tidak ada lagi.

Ketika kita dalam kondisi di titik terendah tentu ingin mendaki ke titik yang lebih tinggi. Namun, ketika sampai di titik yang paling tinggi mau tak mau harus kembali lagi menuruni titik yang lebih rendah. Di sini ada sebuah tanda tanya besar. Sesungguhnya kekuatan itu ada di mana? Ketika di bawah atau di atas?

Saat akan mendaki, tenaga dalam kondisi penuh karena suplai mudah didapat. Begitu juga saat akan menurun, tenaga juga penuh karena suplai gravitasi. Di mana letak perbedaan tenaga antara di titik terendah dan di titik tertinggi?

Di titik keduanya mampu karena serba bantuan dari-Nya. Berujung-pangkal pada kelelahan, berawal-akhir dengan istirahat. Dari lamunan itu, muncul kesadaran kenapa firman pertama-Nya menasihatkan agar mengawali dengan membaca Asma-Nya bila hendak membaca, mendaki dan menggali alam manusia.

Asma itu secara global dikenal dengan bacaan Basmalah dengan lafaz bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim mengandung tiga Asmaul Husna, nama utama dan terpuji milik Allah. Basmalah terdiri dari tiga alif, menandakan adanya ahadiyah yang memonopoli segala urusan dan kebutuhan makhluk. Semua sembah dan puji tertuju pada satu tempat yaitu kepada Zat sejati yang menggerakkan zat-zat milik makhluk, mulai dari unsur zat tunggal hingga bentukan berupa campuran dan senyawa yang menyusun tubuh makhluk.

Nama utama Allah itu ketiganya diawali dengan huruf alif. Disebut alif dzat al-Wahid yang dalam ilmu makrifat disebut banyu nur alif. Bahwa segala makhluk tercipta karena air, dalam setiap sesi kegiatannya selalu membutuhkan air. Maka harus menyadari adanya banyu nur alif yang meliputi langit dan bumi. Air langit menghidupi makhluk di bumi dan air bumi menghidupi makhluk di laut. Di bawah kuasa Zat yang wujud sendiri tanpa ada yang mewujudkan, Zat yang hidup sendiri tanpa ada yang menghidupkan (qiyamuhu binafsihi).

Genggaman Tuhan dilambangkan dengan huruf ba’, artinya dengan kehendak Allah segala sesuatu terjadi. Dalam ilmu makrifat disebut sebagai sifat sejatinya alam. Bahwa diciptakannya Nabi Muhammad Saw. dengan gelar Nur Allah–biji atau asal dari semua makhluk–sebagai wasilah diciptakannya alam ini. Alif dan ba’ pada Basmalah merupakan pangkal kehidupan, pangkal tenaga, pangkal upaya dan pangkal keberhasilan setiap makhluk baik yang mempunyai insting maupun yang mempunyai akting. Adanya Nur Allah dikarenakan Gustialah akan menunjukkan kepada manusia sekaligus memberikan contoh kepadanya bahwa Gustialah itu Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang tercipta.

Bagi makhluk yang berakting (manusia), ketika ia dipasrahi sebagai jawata ing ngarcapada, ia berlaku seolah menjadi tuhan kecil. Di muka bumi ia mengatur kehidupan. Bahkan ia berani merubah pola hidup makhluk yang dikaruniai insting (hewan dan tumbuhan) dengan temuan ilmu rekayasa genetika. Berani memotong siklus dalam sebuah ekosistem dengan mengelabuhi makhluk berinsting melalui inseminasi buatan, media vegetatif sampai dengan membuat biosfer baru demi kepentingan memunculkan varietas pengganti yang terkadang merubah pola hidup makhluk lainnya. Saat kreasinya (rekayasa genetika dll.) menemui kebuntuan, yang dilakukan adalah memulai lagi dari nol.

Usaha dan upaya terdahulu yang menemui kebuntuan seolah dilupakan ketika memulai lagi usahanya dari nol. Tidak menyadari bahwa setiap makhluk mempunyai ketergantungan dengan lingkungannya, baik lingkungan “biotik maupun abiotik”–dalam tanda petik karena sebenarnya semua makhluk mempunyai kehidupan.

Secara lahir, gejala dan akibat perubahan alam seperti pengembangan daya, cipta, rasa dan karsa manusia merupakan penyikapan perputaran kehidupan. Sebuah temuan baru terkadang merupakan temuan yang sudah lama ada. Seperti halnya mode pakaian yang kembali ke nol. Bahkan ada yang bilang, “Simpan pakaian kita sekarang, besok akan jadi modern.” Jangan malu dengan apa yang kita miliki sekarang. Jangan malu dengan pekerjaan dan sarana hidup lain milik kita. Elek elek duwek dhewek kita perjuangkan dari nol atau mungkin dari min dengan segala kemampuan yang kita miliki. Biarkan dibilang kuno toh pada saatnya nanti akan jadi modern dengan sendirinya.

Setelah mempelajari dan memperhatikan (iqro’ – istiqro’) dengan fenomena alam yang seolah selalu berbalik arah, mestinya kita bangga menjadi orang yang nJawani dengan sikap selalu menjiwai terhadap berbagai peristiwa. Kita mempunyai bebasan lengkap untuk menentukan sikap seperti sangkan paraning dumadi, asal usul kejadian. Bumi asalnya tidak ada, manusia asalnya tidak ada, langit dulunya juga tidak ada lalu diadakanlah Nur Muhammad sebagai wasilah alam. Kelak, semua akan kembali tidak ada, kembali ke-Nol.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Nol

Barok-ah Kopi-kiran

Review Tema Rutinan Sanggar Kedirian 13 Juli 2017



Teman-teman Sanggar Kedirian memang sangar, memilih judul seperti di atas. Mencari teman yang tidak tampak untuk diajak berpikir. Kopi dan rokok.


Berkaitan dengan kopi ternyata mengandung keberkahan yang besar di sana. Tentu bagi yang lambungnya bermasalah bersedia merelakan untuk orang lain. Siapkan kopi murni. Jangan kopi jitu, kopine siji jagunge pitu . Guna mencari berkah di dalamnya.


Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas menyampaikan bahwa membuat kopi panas dapat mengusir jin dari dalam rumah


وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول : إن المكان الذي يُترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل به القهوة لا يسكنونه الجن ولا يقربونه.


Bahwasanya al-Habib Abu Bakar bin Abdillah al-Attas berkata, "Sesungguhnya tempat rumah kalau ditinggalkan dalam keadaan sepi/kosong maka para jin akan menempatinya. Sedangkan rumah/suatu tempat yang mana di situ biasa membuat hidangan minuman kopi, maka para jin tidak akan bisa menempatinya dan tidak akan bisa mendekat/mengganggu."



Sumber Kitab Tadzirunnas, hal. 177. Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan:


يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد

شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد

حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد


"Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari Ilmu"

"Kopi adalah minuman orang yang dekat kepada Allah, di dalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah di antara manusia"

"Kopi diharamkan bagi orang bodoh yang mengatakan keharamannya dengan keras kepala"



Komentar al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami :


ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح

العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل 


"Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli Shofwah (Orang-Orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan."



Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya. Namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari qo'idah "bagi perantara menjadi hukum tujuannya, maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya."



Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara". Rasulullah Saw kemudian Bersabda, “Aku akan memberimu tiga hadits yang salah satunya: Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu."


اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به وسلم





*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul 'Arifin.


Continue reading Barok-ah Kopi-kiran

Bermaiyah

Review Tema Sanggar Kedirian 19 Juli 2019



Kata maiyah bila diruntut berasal dari bahasa Arab ma’a , bersama atau menyertai, misal akhir QS. al-Baqarah (2):154, "Innallaha ma’as-shobirin" , Allah bersama/menyertai orang-orang yang sabar, setelah sebelumnya berseru agar menjadikan sabar dan salat sebagai senjata meminta pertolongan. Ma’iyah dapat diartikan sebagai faham kebersamaan. Yaitu segolongan orang yang selalu ingin bersama-sama dengan siapa saja, dan melebur dalam bahasa Indonesia menjadi maiyah.


Ber, kata depan yang menunjukkan kepunyaan. Misal berbudi mempunyai arti orang yang mempunyai budi. Bermaiyah dapat diartikan orang yang mempunyai jiwa kebersamaan. Dalam skala besar adalah sekelompok masyarakat yang mendambakan terpeliharanya rasa persatuan dan kesatuan di negeri tercinta, Indonesia.


Alur bermaiyah dimulai dari pribadi yang memperhatikan anggota tubuh yang berbeda fungsi tetapi saling menolong dan membutuhkan. Jika salah satu terasa sakit yang lain ikut merasakan. Lalu keluarga, penghuni sekitar rumah dan akhirnya dengan orang yang sefaham dari berbagai lingkungan. Berbeda nasib tetapi berkeinginan sama, mewujudkan kebersatuan arah “naluri” dalam kebhinekaan hati memayu hayuning bawana . Merindukan kedamaian di setiap sisi kehidupan tak terbatas.


Ngleluri (ngleluhuri) ajaran leluhur memayu hayuning bawana adalah perintah-sebagaimana dalam al-Qashash: 77-tidak berbuat kerusakan di muka bumi serta berusaha berbuat baik dengan siapa dan apa yang ada di bumi semampu mungkin. Tanpa memayu hayuning bawana tidak mungkin mendapat kedamaian.


Melupakan jasa-Nya tidak akan mungkin mendapat kebahagiaan karena kita terus menikmati jasa baik-Nya. Jasa baiknya menumbuhkan bahan makanan dan minuman menjadikan kita mampu memenuhi hasrat makan dan minum. Dengan makan dan minum kita mampu bertahan hidup hingga terjadi dinamisasi dalam kehidupan.


Bermaiyah tidak harus memaksakan kesamaan akidah (Al-Baqarah: 256) tetapi bermaiyah perlu menyamakan kaidah. Kaidah dalam hidup adalah saling tolong dalam berbenah. Dalam berbenah tidak boleh merasa lelah karena akan menimbulkan keputusasaan. Keputusasaan akan menumbuhkan rasa tidak percaya diri. Tidak percaya diri merupakan awal kehancuran hati. Kehancuran hati akan merubah pola pikir. Perubahan pola pikir menjadikan hilangnya kaidah. Hilangnya kaidah menghilangkan daya dan rasa. Bila daya dan rasa hilang rasa bermaiyah pun terhalang. Akhirnya cita-cita kebersamaan tinggal angan-angan. Padahal hidup itu nyata.


Urgensi dari bermaiyah salah satunya menumbuhkan rasa handarbeni terhadap bangsa yang hidup kebanjiran segara madu dan kabegjan kebrayan , anugerah yang tiada tara dengan limpahan sumberdaya alam yang tak ternilai harganya. Bahwa bangsa dan negara Indonesia menjadi “incaran” bangsa lain. Kita mengalami penjajahan dan pendudukan selama hampir empat abad. Seolah belum merdeka meski pascaproklamasi, roda “kehidupan” belum berputar sempurna dan hingga kini ketahanan hidup tidak berubah.


Selama kaidah hidup dipertahankan dalam kebersamaan, kebanjiran segara madu dapat dinikmati. Kenikmatan hidup didapat bila percaya diri dan tidak putus asa. Menyerah boleh tetapi jangan putus asa.





*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul 'Arifin.


Continue reading Bermaiyah

Keranjang Sampah

Review Tema Sanggar Kedirian 16 Desember 2016



Sampah, orang Jawa memberi istilah wuh berarti sebuah kerendahan. Kependekan dari huwuh (dibaca uwuh). Bila diberi kombinasi mempunyai makna kembali ke diri: "E" wuh, serba bingung, apakah telah sesuai dengan ajaran atau belum; "pake" wuh, merasa tidak pas dengan sikap yang kita tentukan; "ra" wuh, masalah yang disikapi dengan baik dan tidak menyinggung perasaan; ewuh aya, merasa serba salah. Serta kombinasi kata atau kalimat lain yang bermakna agar selalu menunjukkan sikap baik dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang menyangkut diri kita dengan makhluk lain atau terhadap lingkungan.


Sampah mempunyai makna di kehidupan. Adanya sampah menunjukkan kalau kita tidak hidup sendiri. Sampah roti karena kita berhubungan dengan pabrik. Sampah kacang karena kita berhubungan dengan kebun (teringat lirik lagu "Dondong opo Salak" yang berbunyi, "Kacang karo roti, adi diparingi").


Keranjang dalam bahasa Jawa disebut kranjang yaitu alat transportasi berbasis otot untuk memindah atau menyimpan barang sementara waktu. Bila ditulis tersusun atas tiga huruf ( ka - na - ja , 5-2-13). Ka berarti potensi diri, na : dasar, ja : keinginan selalu menang.


Keranjang dibuat dari anyaman bambu ( deling ) berlubang besar bermakna di setiap sesuatu jika ingin mempunyai arti dalam kehidupan, maka harus memperhatikan sisi positif dan sisi negatifnya. Misal kata tatune arang kranjang menunjukkan betapa pandainya menyimpan sebuah kesedihan, memperhalus kalimat yang mengerikan menjadi kalimat yang sejuk. Dalam sebuah peperangan apabila seseorang telah mengalami luka parah terkena senjata biasanya sudah tidak bisa lagi diharapkan kembali sehat dan normal, maka memilih kalimat "tatune arang kranjang" untuk memperhalus agar teman dan keluarganya tidak panik. Bahwa manusia kebanyakan mempunyai watak ingin selalu berada di atas rata-rata sekalipun hidupnya bersandar dengan orang lain, maka sifat ini harus dilepaskan karena potensinya dapat dibaca orang banyak.


Keranjang sampah merupakan gambaran bagaimana kita bersikap seperti bumi. Dalam ilmu Hasta Brata dijelaskan bahwa bumi tidak membeda-bedakan makhluk yang berada di permukaan dan di dalam tubuhnya. Semua diterima dengan tulus karena mereka mempunyai hak bertempat padanya.


Seorang yang berjiwa keranjang sampah selalu melihat potensi yang dimiliki oleh saudaranya, mencari kelebihan diantara kekurangan yang tampak, didaur ulang agar dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Keranjang sampah menggambarkan kerendahan hati, menjauhi sikap gegabah dalam memutuskan tindakan, jangan terburu membuang sesuatu, agar tidak timbul penyesalan. Pecut diseblakna, wis bacut dikapakna ?





*Selama Ramadhan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul 'Arifin.


Continue reading Keranjang Sampah

Nanthing Tulus

Review Tema Rutinan Sanggar Kedirian 25 Januari 2019



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ 


“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah?” (Surat al-Hajj: 18)


Di dalam penggalan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan bahwa hanya Dia-lah semata yang berhak disembah, dan tiada sekutu bagi-Nya.


Bersujud kepada-Nya semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Yaitu para malaikat yang berada di seluruh penjuru langit, juga para manusia, jin, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk lainnya yang ada di bumi.


Pengertian sujud di dalam ayat ini, bila dikaitkan dengan makhluk selain manusia, jin, dan malaikat, berarti tunduk mengikuti hukum atau kodrat yang ditentukan oleh Allah untuk mereka, baik mereka melakukannya secara sukarela maupun terpaksa, dan mereka tidak dapat lepas dari ketentuan tersebut.


Sedangkan sujud bagi manusia, jin, dan malaikat, berarti patuh kepada hukum-hukum Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.





*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul 'Arifin.


Continue reading Nanthing Tulus

Ramadan 12 Bulan

Review Tema Sanggar Kedirian 8 Juni 2017



Di awal Ramadan, berat rasanya berpuasa karena harus meninggalkan aktivitas yang bersifat metabolis, sebagian maupun keseluruhan. Biasanya merokok dan ngopi beberapa saat untuk menyehatkan sistem respirasi, harus berdiam membiarkan rasa kecut bin masam di bibir. Biasanya ngemil, harus mengulum lidah di pagi hari, karena puasa.


Puasa, dalam bahasa Jawa disebut pasa: siyam dan maneges. Pasa banyak yang memaknai sebagai usaha ngepasne rasa, bagaimana merasakan sesuatu yang dirasakan saudara kita yang hidup dalam kekurangan sandang pangan. Pasa memberikan sentuhan rasa bagaimana jika kita yang kekurangan sandang atau perangkat hidup. Perangkat hidup yang didambakan adalah berkecukupan dalam lenggah dan sembah atau kedudukan dan kepantasan.


Lenggah merupakan kemapanan dalam pekerjaan. Sedangkan sembah adalah kepantasan dalam pergaulan seperti pakaian, uang, sarana transportasi dan komunikasi yang mengundang decak orang lain. Puasa menggugah rasa bagi orang yang telah cukup atau berkelebihan terhadap pangan, bagaimana reaksinya bila melihat keperbedaan di bawah standar. Hingga timbul rasa iba yang sebenarnya, tidak hanya mencapai kepantasan.


Siyam merupakan cita-cita besar mencapai kualitas dan kuantitas yang berbeda, dari “kates” biasa menuju “jenis taiwan”, bila itu “ayam” menuju “jenis bangkok”. Siyam adalah ibadah yang komplet baik pahala maupun kemantapan doa bahkan orang tidur pun bernilai pahala.


Orang berpuasa disebut maneges, bahwa setelah membina rasa, ia mencari arti dari setiap langkah perjalanan hidupnya, apakah yang dilakukan berguna bagi orang lain atau tidak berarti sama sekali. Ia mencari makna dari setiap gerakan bibirnya, apakah ucapannya menyenangkan atau menyakitkan, apakah harga hartanya dapat menolong harga dirinya. Atau pertanyaan lain yang jawabannya menyangkut kesempurnaan dirinya.


Ramadan adalah bulan berharap dan berdoa, berharap mendapatkan arti dan berdoa mencari arti. Ramadan berasal dari akar kata roma, api yang membakar dengan cepat. Di bulan itu dosa dan kesalahan dibakar dengan cepat melalui perbuatan yang secara kuantitas sama dengan di bulan lain, bila perbuatan itu diniatkan untuk orang lain dan menjadikannya terhindar dari dosa. Sabda Rasul, ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan”.


Puasa adalah ibadah lahir batin. Secara lahir menahan nafsu fisik dan secara batin menahan kemungkaran. Secara lahir melakukan sedekah dan secara batin rajin berdoa. Dari sini muncul istilah donga sinandhi atau doa yang tidak terus terang. Bahwa sedekah yang dikeluarkan berupa apa dan seberapa pun sebagai usaha mencegah malapetaka (as-shodaqatu lidaf’il bala’). Secara lahir melakukan ibadah dan secara batin berusaha pasrah.


Di akhir bulan Ramadan, keindahan rasa mulai memasuki oksigen darah yang ikur beredar ke seluruh tubuh. Kebahagiaan mulai terasa dan diri kita telah menemukannya dengan ditandai keterkejutan dan gumam hati, "Benarkah bulan mulia ini akan berakhir?" Kita merasakan ketentraman hati walau hanya sebentar lalu berharap semoga bulan-bulan berlalu bagai Ramadan. Ya, Ramadan 12 bulan.





*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul 'Arifin.


Continue reading Ramadan 12 Bulan

Tirakat Milad Sanggar Kedirian

21 Agustus 2019

Redaksi

Di antara macam-macam jenis ibadah kepada Allah, selain yang diperintah melalui Nabi dan Rosul yang disebut ibadah Mahdhoh ada pula ibadah kepada Allah yang juga bisa kita inisiatifi sendiri. Dimana manusia mendapatkan kesempatan untuk menciptakan cara dan konteksnya melalui ibadah Muamalah. “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56), sehingga semua apapun yang dilakukan manusia seharusnya diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah. Salah satunya adalah jenis puasa, yang bisa kita hikmahi untuk memperkaya batin kita di luar ibadah puasa Mahdhoh yang diperintahkan. Kita inisiatifi dari nurani atau dari kesadaran batin, baik untuk pendalaman, pengolahan dan pendadaran batin beserta harapan pertolongan-pertolongan dari Allah. Sehingga utamanya dalam berpuasa ini adalah kemampuan kita dalam kesadaran menemukan batasan-batasan tertentu dalam berbagai bidang. Dan pembatasan itulah hakikat puasa, minimal dengan berpuasa kita tidak jadi melakukan suatu kemaksiatan. Jadi di samping kita melakukan puasa sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Allah SWT, juga alangkah indahnya kalau kita juga mencari bentuk-bentuk puasa dari berbagai macam jenis, yang munculnya tidak karena Allah menyuruh, tetapi karena kita memiliki kesadaran bahwa kita harus melakukan pembatasan-pembatasan dan itulah puasa di dalam inisiatif kita sendiri.

Dalam rangka memperingati milad Sanggar Kedirian ke-7 ini, bersama kita menginisiatifi untuk melakukan puasa pada hari jumat tanggal 23 Agustus 2019. Dan kita melakukan buka puasa bersama di Hutan Joyoboyo sekaligus tumpengan sebagai wujud syukur kita.

Redaksi Sanggar Kedirian

Continue reading Tirakat Milad Sanggar Kedirian

Memenjarakan Diri Sendiri

7 Oktober 2019

Gatot SP

Terkadang kita sering memenjarakan diri sendiri dengan menyempitkan makna sebuah kata. Mrongos, misalnya, kita memaknainya sebagai seseorang yang diberi kelebihan gigi dibandingkan orang pada umumnya. Dan orang yang kita anggap mrongos akan tersinggung jika kita menyebutnya seperti itu karena menganggap mrongos itu jelek.

Pertanyaannya, siapa yang menyatakan kalau mrongos itu jelek? Darimanakah stereotip tersebut berasal? Apakah dari lingkungan sekitar atau dari diri kita sendiri? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut kita simulasikan sebelum terlalu jauh menuduh Tuhan telah menciptakan sesuatu yang jelek.

Maka mari kita lapangkan dada, meluaskan cakarawala pikiran, dan jangan terburu-buru menyikapi sesuatu yang mungkin belum kita ketahui duduk perkaranya.

Continue reading Memenjarakan Diri Sendiri

Jangan Sempit!

10 November 2019

Gatot SP

Terkadang kita sering memenjarakan diri sendiri dengan kesempitan dalam pemaknaan sebuah kata yang disepakati antara manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Semisal dicontohkan manakala seseorang yang kebetulan diberi kelebihan gigi daripada umumnya (mrongos). Manakala dia dibilang mrongos dia akan marah. Karena mrongos dianggapnya jelek.

Siapa bilang kalau mrongos itu jelek?

Pemikiran kita sendiri yang menganggap bahwa mrongos itu jelek. Ditambah perasaan yang seakan mengiyakan bahwa mrongos tersebut jelek.

Dan tanpa sadar kita menuduh Tuhan yang membuatnya jelek.

Maka mari kita lapangan dada, jangan sempit dalam berfikir dan menyikapi sesuatu yang mngkin kita tidak tahu apa maksud dibalik itu, karena kita punya batasan.

Continue reading Jangan Sempit!

Mangiyah, Menyatukan Alam Dan Waktu

29 Juli 2019

Waktu sangatlah berharga. Begitu berharganya waktu, menyia-nyiakannya adalah bentuk puncak kerugian, bahkan lebih berbahaya dari kematian.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]

Kita sadari bahwa Mayoritas manusia banyak lalai dan menyia-nyiakan waktu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Waktu memang sangat berharga dan harus dipergunakan dengan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat agar kita selamat dunia akhirat.

Semoga Bermanfaat.

Continue reading Mangiyah, Menyatukan Alam Dan Waktu

Barok-ah Kopi-kiran

5 Mei 2020

Review Tema Rutinan Sanggar Kedirian 13 Juli 2017

Teman-teman Sanggar Kedirian memang sangar, memilih judul seperti di atas. Mencari teman yang tidak tampak untuk diajak berpikir. Kopi dan rokok.

Berkaitan dengan kopi ternyata mengandung keberkahan yang besar di sana. Tentu bagi yang lambungnya bermasalah bersedia merelakan untuk orang lain. Siapkan kopi murni. Jangan kopi jitu, kopine siji jagunge pitu. Guna mencari berkah di dalamnya.

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas menyampaikan bahwa membuat kopi panas dapat mengusir jin dari dalam rumah

وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول : إن المكان الذي يُترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل به القهوة لا يسكنونه الجن ولا يقربونه.

Bahwasanya al-Habib Abu Bakar bin Abdillah al-Attas berkata, “Sesungguhnya tempat rumah kalau ditinggalkan dalam keadaan sepi/kosong maka para jin akan menempatinya. Sedangkan rumah/suatu tempat yang mana di situ biasa membuat hidangan minuman kopi, maka para jin tidak akan bisa menempatinya dan tidak akan bisa mendekat/mengganggu.”

Sumber Kitab Tadzirunnas, hal. 177. Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan:

يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد

شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد

حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد

“Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari Ilmu”

“Kopi adalah minuman orang yang dekat kepada Allah, di dalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah di antara manusia”

“Kopi diharamkan bagi orang bodoh yang mengatakan keharamannya dengan keras kepala”

Komentar al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami:

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح

العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل

“Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli Shofwah (Orang-Orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan.”

Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya. Namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari qo’idah “bagi perantara menjadi hukum tujuannya, maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya.”

Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara”. Rasulullah Saw kemudian Bersabda, “Aku akan memberimu tiga hadits yang salah satunya: Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu.”

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به وسلم

____________________________

*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Barok-ah Kopi-kiran