Review Tema Sanggar Kedirian 11 September 2016

Nabi Ibrahin a.s., moyang dari 75.000 diantara 124.000 nabi/rasul yang diutus menuntun umat agar senantiasa berada di jalur yang benar (shiroth al mustaqiem) tidak pernah pasrah mengikuti petunjuk dan perintah Allah. Salah seorang dari Ulul Azmi yang meninggalkan kemewahan di Mesir dan memilih hidup di Palestina, serta tidak menolak ketika diperintah Allah menuju Makkah bersama Nabi Ismail, putra sulung beliau. Hal inilah yang kemudian menjadi penguat bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah seorang Rasul, keturunan beliau.

Nabi yang lahir di negeri Babilon saat pemerintahan Raja Namrud itu adalah keturunan Nabi Nuh a.s. melalui jalur Tarih bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Afrakhsyad bin Saam, putera nabi Nuh as. Masa kecil beliau di dalam gua sejak beliau lahir. Maka tatkala dewasa takjub melihat panorama, bintang, bulan, matahari dan ombak-ombak yang perkasa, lebih memberi warna kehidupan dibanding dengan patung-patung yang disembah oleh kaumnya yang dibodohi oleh penguasa, Raja Namrud yang juga mengaku dirinya sebagai tuhan.

Nabi yang bergelar Kholilullah itu meluruskan akidah dengan mendebat sang raja, kenapa tidak menyembah hewan saja yang hidup dari pada patung buatan manusia? Apakah tidak sadar kalau dia tidak mampu membalik arah matahari dari timur ke barat, yang digerakkan oleh Tuhan pemberi hidup manusia dan pencipta seluruh alam? Namrud menjawab bahwa ia pun dapat menghidupkan dan mematikan manusia, halmana disanggah beliau bila itu tidak mematikan tetapi membunuh dengan kejam didasari keserakahan dan ketidakmampuan.

Nabi yang menunjukkan mukjizat tidak mempan dibakar ketika pada akhir perdebatan dimasukkan ke dalam tungku itu, menyadarkan masyarakat sehingga menyembah Allah dan mengajarkan kepada kita bahwa kunci kesuksesan hidup adalah: sabar dan sadar dengan perjalanan hidup, tidak perlu membandingkan materi dan potensi milik kita dengan kepunyaan orang lain, menjadikan pelajaran terhadap apapun yang kita temui dalam kehidupan, dan mengambil sisi positif pada setiap kekurangan yang kita lihat dan rasakan. “Kembali ke Diri”.

____________________________

*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- _review_ tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *