Review Tema Sanggar Kedirian 9 Februari 2018


Serat Wulangreh Raja Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwana IV pada bait atau pupuh ketiga memberikan gambaran tentang perilaku tidak baik dan kebablasan menjadikan hidup terjerat penderitaan. Nasihat dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan tidak pernah diperhatikan, sementara perilaku tidak baik menjadi kebiasaan. “Sekar gambuh ping catur || Kang cinatur polah kang kalantur || Tanpa tutur katula-tula katali || Kadaluwarsa kapatuh || Kapatuh pan dadi awon.”

Apabila diurai secara sederhana, nyanyian atau tembang gambuh di atas menunjukkan betapa besar perhatian terhadap rakyat agar berperilaku utama. Baris keempat berisi tentang pentingnya memberi nasihat kepada yang lupa dengan laku utama, jangan sampai kadaluwarsa dan menyebabkan terjadinya peradaban baru yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Nasihat yang diberikan berpedoman pada eling purwa duksina, belajar kepada generasi terdahulu bahwa yang mengikuti ajaran agama akan mendapatkan kebahagiaan, sebaliknya bagi yang tidak memperhatikan nasihat akan menyesal dan menemui ketidakpastian dalam hidup, selalu bingung dalam memutuskan sesuatu, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Salah satu nasihat itu adalah mengingat asma telu, tiga nama yang menjadi purwa duksina kehidupan makhluk.

Gambuh atau pertemuan ketiga nama itu terdapat pada ajaran makrifat tentang Zat Sejati, Sifat Sejati dan Asma Sejati. Zat Sejati adalah Allah dengan sifat dua puluh dan asmaul husna yang harus diyakini adanya oleh makhluk, yang menciptakan dan memelihara seluruh alam seisinya: alam malaikat, alam manusia, alam hewan maupun alam tumbuhan. Semuanya mampu hidup sesuai batas masing-masing karena kehendak Zat Sejati yang memelihara alam dengan penuh kebijaksanaan dan keadilan.

Genggaman atau wadah dari cahaya kehidupan adalah Sifat Sejati yang dimiliki Rasul akhir zaman, Muhammad Saw., sebagai rohmatan lil ‘alamiin beliau terlebih dahulu diciptakan sebelum alam lain. Alam lain merupakan emanasi Nur Muhammad. Semua penghuni langit dan bumi senantiasa mengagungkan asma beliau dalam shalawat. Semestinya kita juga melakukannya untuk njangkung rahmat. Kemuliaan derajat manusia bergantung pada pembawa Sifat Sejati. Beliau menuntun manusia agar senantiasa sesuai alur agama dan beliau akan memberi syafaat bagi yang percaya disaat kepercayaan tidak dibutuhkan lagi.

Asma Sejati adalah Nabi Adam a.s., manusia yang pertama kali diciptakan Gustialah ‘Zat Sejati’ dari saripati tanah. Melalui Adam a.s. Gustialah menciptakan manusia dan menjaga genetika manusia yang disimpan di tulang punggung. Berbeda dengan makhluk lain yang berlaku seleksi alam, yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akan punah. Generasi manusia terlindungi (kejangkung) Asma Sejati. Walau menikah dengan suku atau bangsa yang berbeda bentuknya tetaplah manusia. Faktor dominasi tidak merubah bentuk dan variasi warna kulit.

Rantai pemeliharaan Asma Sejati–sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an–selalu diperbaiki dari generasi ke generasi. Dimulai dari peristiwa Habil dan Qabil hingga anak cucu Nabi Adam yang ngelantur diperbaiki generasinya melalui banjir bandang pada masa Nabi Nuh a.s., hingga yang tersisa delapan puluh orang yang kesemuanya beriman kepada Allah. Penyelewengan terjadi ketika pada suatu waktu terdapat negara yang penuh dengan prostitusi, gay, lesbian hingga bayi laki-laki di-sweeping oleh Raja Namrud. Setelah konspirasi Namrud dikalahkan oleh Nabi Ibrahim dan banyak yang mengesakan Allah, umat Nabi Luth a.s. dilebur dengan membalikkan kota, hingga yang tersisa generasi Nabi Ibrahim dan Nabi Luth beserta umat mukmin binaan beliau.

Ketika penyelewengan terhadap kitab Taurat dan Shahifah para nabi dan rasul memuncak, pemurnian Asma Sejati dilakukan bersamaan dengan sweeping Raja Fir’aun terhadap bayi laki-laki segenerasi dengan Nabi Musa a.s. Setelah dewasa, beliau mengajak kaumnya beriman hingga suatu saat terjadi perdebatan tauhid dengan Fir’aun dan paranormalnya. Usai perdebatan, mayoritas tentara dan pejabat mengimani Allah dalam hati. Kegigihan memelihara Asma Sejati itu tergambar dalam peristiwa Dewi Mashithoh yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun nyawanya terancam. Akhirnya Fir’aun dan prajuritnya yang ngelantur habis tenggelam di laut merah. Yang tersisa adalah Nabi Musa a.s. dan pengikutnya yang setia membawa Asma Sejati.

Diri Nabi Muhammad di samping sebagai Sifat Sejati juga pembawa Asma Sejati. Beliau menyempurnakan ajaran para nabi dan rasul terdahulu. Memurnikan agama Nabi Isa dan pembawa kitab lainnya dengan tatanan hidup sejati melalui al-Qur’an (lihat QS. 2: 185 dan QS. 3: 1-6). Setelah menyempurnakan hukum pernikahan dan halal haram dalam Islam, beliau menyeru kepada umatnya agar selalu bersabar dan membela agama Allah, menjadikan sabar dan sembahyang sebagai sarana memohon pertolongan Gustialah, menyeru umatnya agar taat kepada Gustialah, taat kepada Gusti Nabi dan mengikuti Gusti Ratu, serta mengembalikan semua urusan melalui al-Qur’an, as-Sunnah dan keputusan para sahabat yang dibawa oleh pewaris beliau untuk mempertahankan Sifat Sejati dan Asma Sejati. Orang tua kita rajin mengajarkan akhir surat al-Baqarah ayat 286 untuk njangkung anak cucu. Mengikuti doa Nabi Ibrahim pada surat Ibrahim ayat 40-41. Membuat kita kejangkung leluhur.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *