Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 6 Desember 2019

Duh Gusti mugi paringo ing margi kaleresan || Kados margine manungso kang manggih kanikmatan || Sanes margine manungso kang paduko laknati ||

Wirid Duh Gusti yang baru saja kita lantunkan, konon, adalah hasil renungan dari ayat terakhir surat al-fatihah. Jika setelah ini ada yang mau mengamalkannya setiap tarikan nafas atau setelah shalat atau sekali seumur hidup, itu terserah. Yang pasti, kita membutuhkan hidayah-Nya untuk mengarungi lika-liku lelaku kehidupan. 

Ihdinas shirathal mustaqim… sampai segitunya Allah mengajari makhluk hina ini lewat kalam-Nya. Sebab Allah tahu bahwa shirat yang kita tempuh bukan kaleng-kaleng. Dengan terus membacanya sembari centak-centuk selama lebih dari sekali dalam sehari, barangkali bisa membuat kita tatag meniti shirat-yang tak selamanya mulus; kadang jalanannya rusak, bergelombang; tidak jarang ada kelokan tajam nan curam; tak sekali-duakali menemui pengendara lain yang memaksa kita ke luar jalur. 

Dalam Maiyah kita dibekali pemahaman mengenai sabil, syari‘, thariq, dan shirat. Sabil itu arah hidup kita; apakah untuk kesia-sian atau beribadah. Jika sudah tahu, kita akan menempuhnya melalui jalan yang disebut syari‘. Kadangkala saat fokus menuju tujuan, tak disangka di pinggir jalan kita melihat orang yang kehabisan bensin. Lantas bagaimanakah sikap kita? Jika sumeleh dan menyadari bahwa hal itu adalah dinamika ijtihad dalam menempuh jalan, maka kita sadar dengan konsekuensi thariqah ini. Jika tidak? Entahlah. Di situlah shirat kita diuji; seberapa presisikah kita menempatkan diri dalam perjalanan fana menuju baqa

Atau jangan-jangan kita terlanjur GR-karena beranggapan dengan seringnya bermaiyah secara otomatis membuat kita tidak bingung dengan arah tujuan hidup. Oh…

Sinau Bareng rutin malam Sabtu Legi

2 Balas ke “Lika-liku Lelaku”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *