Reportase Sanggar Kedirian “Lika-Liku Lelaku” 6 Desember 2019

Saat Mas Sabrang dengan gaya retorika ala filsuf sedang membedah eskalasi kompleksitas yang mesti disadari oleh Simpul Maiyah yang hadir pada Silatnas Maiyah 2019, di Musholla Taman Hutan Joyoboyo, sedulur-sedulur Sanggar Kedirian, tengah menyinauni “Lika-Liku Lelaku”. 

Ya, kebetulan rutinan Sanggar Kedirian pada Malam Sabtu Legi 7 Desember 2019 berbarengan dengan Silatnas Maiyah yang diselenggarakan di Semarang. Secara kebetulan juga saat Silatnas Maiyah tengah membahas complexity kahanan saat ini, Pak Bustanul Arifin tengah mentadabburi al Baqarah ayat 284-286-yang intinya adalah Al-Qadir tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Terakhir, satu contoh kebetulan lainnya ialah pada malam hari saat pembahasan lakuning urip seseorang sudah diatur oleh Sang Dalang, esoknya Mbah Nun menambahi, “Anda memasuki kompleksitas dengan trust. Yakni bukan hanya Anda berusaha percaya kepada Allah, tetapi juga bagaimana Anda harus membuktikan bahwa Anda dapat dipercaya oleh Allah.” Seolah-olah semua kebetulan tersebut saling berkaitan meski dipisahkan ruang dan waktu. Jangan-jangan, seperti inikah sistem koordinasi organisme Maiyah?

Pertanyaan itu tidak perlu saya jawab di sini. Bagi yang sempat membacanya silahkan merenungkan jawabannya sendiri. Sekarang mari kita lanjutkan kembali reportasenya. Dimulai dengan tanggapan dari beberapa sedulur Sanggar Kedirian.

Kang Zainuri: kalau sudah diniati, maka tidak akan ada lika-liku lagi.

Mas Andri: tidak ada makhluk di dunia ini yang tidak diuji. Semua diuji dengan kapasitasnya masing-masing. Kalau tidak percaya mengapa Kanjeng Nabi sesampainya berjumpa Allah dan Bima setelah bisa masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci disuruh kembali ke dunia lagi? Artinya, tugas kekhalifahan di bumi belum selesai dan tidak boleh ditinggalkan. Semua harus dihadapi meski kadang tak semulus yang kita harapkan.

Seorang sedulur dari Pati: bercerita mengenai lika-liku kehidupannya yang pernah menjadi pemulung.

Kang Lathif: turut urun cerita perjalanan hidupnya hingga sampai aktif rutinan Sanggar Kedirian. Menurutnya, iklim paseduluran yang dibangun di Sanggar Kedirian tidak menganggap rendah orang yang baru masuk. Semua sama dan dianggap seperti saudara sendiri.

Lik Hartono: sebelum menanyakan perbedaan antara lelaku dengan aurad sempat bercerita sedikit mengenai kehidupannya yang sangat berlika-liku. 

Pak Bustanul Arifin kemudian menerangkan arti lelaku-yang tidak sama dengan pengertian kebanyakan orang karena beliau belajar Bahasa Jawa dari wejangan orang tua. Lelaku berasal dari kata laku. Laku berasal dari perkataan “loh itu aku”, seperti itulah aku. Setiap orang memiliki kekhasan masing-masing. Ibarat penjahit satu dengan penjahit lainnya yang mempunyai teknik memasang kancing baju yang berbeda. Manakah yang paling benar? Entahlah. Yang penting tujuan dari adanya kancing baju tersampaikan, ya tidak masalah. 

Itu makna laku menurut othak-athik kebahasaan ala Pak Bustanul Arifin. Sementara lelaku secara sosio-culture dapat dimaknai sebagai syarat agar kita dapat melakukan “lakon” dengan baik. Kalau tidak tahu syarat suatu lelaku maka bertanyalah pada yang lebih mengetahui. Di sinilah posisi aurad itu-sebagai salah satu syarat dalam lelaku.

Lebih lanjut, Pak Bustanul Arifin bercerita, “Saya pernah sowan kepada seorang Kiai bersama teman-teman saya. Ada 5 orang dengan kasus yang sama. Diberi aurad yang berbeda-beda. Ada yang diberi aurad puasa 7 hari dengan berbuka tiap harinya berkurang satu kepel nasi. Hari pertama 7 kepel, kedua 6 kepel dan seterusnya. Tiba saatnya saya diberi aurad hanya perintah bersholawat saja. Tetap boleh makan.” Kalau tujuannya menggak-menggok, tentu akan bertanya lagi, “Mbah Yai, kenapa tidak seperti teman saya? Seumpama ditambahi masih kuat kok.”

Jika kita langsung mantep nglakoni, maka sebenarnya tidak pernah ada lika-liku. Semua yang sudah, yang sekarang, yang belum, dan yang akan kita kerjakan sesungguhnya selalu diberikan petunjuk oleh Allah. Tinggal kita mau atau tidak menjemputnya sembari matur, “Wa qalu sami’na wa atha’na,” sendika dawuh, Gusti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *