Review Tema Sanggar Kedirian 20 Januari 2017

Terdapat beberapa istilah dalam paseduluran, semisal ungkapan sedulur sinarawedi, kadang sentana, sedulur tunggal bayu, kadang tunggal wredha, trah sawadhah. Istilah lain yang diambil dari bahasa Arab: ukhuwwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah sebagai ungkapan agar selalu bersatu bagai tebu setagon yaitu buah tebu yang terikat oleh klaras daun tebu. Dalam membina persaudaraan tidak perlu memandang perbedaan karena sebenarnya perbedaan itu memberi manfaat besar dalam mengikat paseduluran yang sebenarnya.

Paseduluran bila diurai berakar pada wejangan lur yang artinya mencabut dengan mudah, kependekan dari luhur yang berarti mulia. Paseduluran dapat dimaknai sebuah keinginan mencapai derajat mulia walaupun harus merelakan keberadaan yang dimiliki terlepas. Melepas sifat adigang, adigung dan adiguna. Tidak peduli disebut bathang lelaku (seperti mayat berjalan, orang yang tidak bercita-cita tinggi) karena orang kebanyakan melihat bau kapine, orang terdekat sajalah yang dijadikan mitra.

Paseduluran dalam konteks basyariyah atau kemanusiaan sebagai kelanjutan wawasan wathaniyah, berbangsa dan bernegara yang sapadan. Berdasarkan QS. al-Hujurat: 13, manusia mempunyai kedudukan yang sama di bumi. Karenanya harus ngrakit paseduluran, bersahabat dan menjunjung tinggi kesamaan derajat, bahwa manusia adalah trah sawadhah dari Nabi Adam a.s. dan Ibu Hawa. Dalam berilmu pun mereka tunggal bayu yang menghormati kadang wredha yang mengajari kita berbagai pengetahuan.

Di awal perjumpaan, paseduluran merupakan wujud kesamaan hati dan keinginan. Saat di tengah perjalanan, jika terjadi perbedaan dalam wawasan maka segera dilupakan. Paribasan gemblung jinurung edan kewarisan, melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan kebanyakan orang, tetapi berhasil meski dibilang tidak umum. 

Apabila sudah hampir sampai di akhir perjalanan, paseduluran dibangun dengan sesanti dicacad ora gela dielem ora muyeng. Api paseduluran dibangun dengan prasasti yang ditatah dalam hati: walaupun dibuka aibnya tidak merasa sakit hati. Bukan karena tidak punya perasaan tetapi karena menghormati persaudaraan. Sebaliknya tidak akan merasa berbangga hati apabila dipuji-puji apalagi sampai muyeng, lupa diri.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *