Reportase Rutinan Sanggar Kedirian “Tahu ke-Diri” 1 November 2019

Malam itu, sampai dengan pukul 20.30 WIB yang berkumpul hanya sekitar sepuluh orang. Sebagai penggiat, tentu ada rasa khawatir juga. Bagaimana jika nanti sinau bareng hanya diikuti oleh beberapa orang saja? Meski jumlah orang bukan patokan keberhasilan dan rutinan sinau bareng tetap akan dilaksanakan, namun terlalu sedikit yang datang juga perlu menjadi bahan evaluasi.

Untungnya setengah jam kemudian banyak yang datang berbondong-bondong. Mereka langsung bergabung, melingkar bersama sedulur yang lain. Diskusi pun semakin semarak dan hangat setelah pemanasan “adu dengkul” yang digawangi oleh Kang Har.

Tamu dari Ndalem Pojok turut hadir pada malam itu. Ndalem Pojok pernah menjadi saksi kehidupan Soekarno. Sewaktu kecil beliau pernah hidup di situ. Rumah yang pernah ditempati Soekarno sekarang menjadi situs bersejarah dan menjadi wadah berkegiatan lintas komunitas. 

“Saya menemukan tempat diskusi dimana orang-orangnya rendah hati,” ucap Mas Kusno, selaku perwakilan dari Ndalem Pojok. “Inilah perbedaan sinau bareng dengan diskusi pada umumnya. Di sini tidak ada yang memaksakan kehendaknya.”

“Memang benar. Orang-orangnya rendah hati. Saya harus mesti belajar tahu diri. Belajar mengetahui diri sendiri dulu sebelum mengetahui orang lain,” timpal perwakilan Ahmadiyah yang turut datang bersama Mas Kusno. Ia selalu mengawali dan mengakhiri pendapatnya dengan salam. Barangkali karena ia adalah seorang muballigh Ahmadiyah yang tahu diri. Beliau sadar berbeda dengan yang lain. 

Perbedaan tidak perlu dirisaukan, apalagi sampai dilabeli sesat. Simbah kita mengajarkan untuk menampung semua perbedaan yang ada, kemudian mengeksplorasinya hingga menemukan titik ketersambungannya dengan Tuhan. 

Dan tidak hanya perbedaan saja yang dieksplorasi, kemampuan diri adakalanya juga harus dieksplorasi, begitu dawuh Pak Bustanul Arifin. Tujuannya agar kita tahu ke-diri; artinya tidak hanya sadar kesalahan dan kekurangan melainkan juga sadar dengan potensi yang ada pada diri kita. “Kalau mau tahu diri baca surat Thoha!” Tegas Pak Bustanul Arifin.

Beliau kemudian mengeksplorasi pemaknaan unen-unen “isuk dele sore tempe”. Selama ini rura basa tersebut dikonotasikan negatif. Pak Bustanul Arifin kemudian mengembalikan denotasinya: hidup itu yang diharapkan selalu ada perubahan. Seperti proses kedelai menjadi tempe yang melalui peragian. Ragi, dalam Bahasa Jawa, sama dengan regi, artinya sesuatu yang berharga. Seseorang yang terus-menerus mengolah dirinya akan menjadi berharga. Ibarat kedelai berubah menjadi tempe. Tempe lama-kelamaan juga akan mengalami perubahan menjadi tempe bosok. Seseorang yang sudah berharga akan mengalami fitnah. Maka tempe bosok diolah lagi menjadi sambel tumpang agar kembali bermanfaat. Nah, biasanya sambel tumpang dilauki tahu karena tahu tidak bakal berubah. Di situlah manfaat tahu (ke-diri).

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *