Reportase rutinan 29 Mei 2020

Udara dingin Desa Kelutan tak berhenti datang menghampiri. Hembusannya datang dengan sepoi-sepoi. Merasakannya kadang membuat bulu kuduk berdiri. Namun, membuat rasa tenteram di hati.

Malam itu, tepat malam Sabtu Legi, Pak Bustanul ‘Arifin mengundang dulur-dulur Sanggar Kedirian (SK), Tasawwuf Cinta (TC), Kiai Bagus, Ki Anom Kusumo untuk menyelenggarakan acara rutinan di ndalem beliau. Berbeda dengan rutinan biasanya yang digelar di Taman Hutan Joyoboyo atau dua bulan sebelumnya yang dipindahkan ke Kampus Tribakti karena kondisi pandemi.

Meski masih berada dalam kondisi pandemi Covid-19 yang melarang perkumpulan massa, toh kegiatan ini tetap istiqomah dijalankan. Tampaknya, penggiat Sanggar Kedirian memang memilih tetap menjalankan keistiqomahan daripada ikut arus berita yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan.

Acara dimulai, Kang Hartono sebagai moderator mengajak para hadirin untuk membaca surat al-Fatihah. Hajat paling utama ditujukan kepada mertua Pak Bus yang sehari sebelumnya meninggal dunia. Jadi selain rutinan, acara kali ini juga dalam rangka takziyah sekaligus syawalan. Tiga hajat dalam satu acara.

Tahlilan dipimpin oleh Kang Tholib. Dilanjutkan membaca wirid “Duh Gusti” bersama-sama. Di sela-sela pembacaan wirid, Kang Hartono membacakan puisi yang telah dikarangnya.

Mengawali sinau bareng, Kang Hartono meminta para hadirin untuk menyampaikan apa yang sedang dialaminya, terutama dalam menghadapi kondisi pandemi Covid-19. Satu per satu hadirin dari SK maupun TC bergantian menyampaikan kondisinya. Tak jarang cerita berubah menjadi curhatan.

Kang Rifa’i mulai menyampaikan kondisinya. Aktivitasnya dalam pengeboran sumur tetap berjalan seperti biasa. Air tetap menjadi kebutuhan primer, tak peduli masa pandemi. Kang Rifa’i yang biasa dipanggil Bang Djoni ini juga punya aktivitas lain. Kepiawaiannya dalam memainkan keyboard dan organ tunggal dalam keadaan normal sering diminta mengisi event. Namun, larangan pengumpulan massa merubah job menjadi sepi.

Sementara itu, Makdhe Girin menceritakan aktivitasnya selama pandemi Covid-19. Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kebersihan di ATM, Makdhe mempunyai ceritanya sendiri. ATM sering dianggap sebagai tempat yang rawan dalam penyebaran penyakit Covid-19 karena di dalam suatu bilik kecil yang bermacam-macam orang bergantian memasukinya. Sama juga dengan uang yang dianggap sebagai salah satu sarana sebaran Covid-19 karena dipegang oleh banyak orang. Ada orang yang saking hati-hatinya membuka pintu ATM dengan menggunakan sikut. Adalagi cerita orang yang menyemprot uangnya dengan hand sanitizer setelah keluar dari mesin ATM.

Pria bernama asli Budi Santoso ini berpendapat bahwa seharusnya kita jangan terlalu takut kepada virus Covid-19. Imun terbentuk ketika kita tidak takut. Jika imun kuat, Covid-19 yang takut pada kita.

Berbeda dengan Makdhe Girin, Kang Roy menyampaikan apa yang dialami di desanya. Penggiat SK yang dipercaya oleh warganya menjadi pamong desa ini bercerita bahwa pada kenyataannya penanganan Covid-19 benar-benar berbeda dengan protokol Covid-19 yang diberitakan. Covid-19 diberitakan secara wah dengan segala macam protokolnya. Pada kenyataannya, protokol itu tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Memang sebaiknya dalam melihat berita harus pintar-pintar melihat bagaimana kenyataannya. Setidaknya dengan adanya Covid-19 ini orang-orang menjadi lebih sadar bahwa berita di media massa terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Sebagai moderator, Kang Hartono menengahi. Dalam menghadapi apapun termasuk pandemi ini, tidak semestinya terlalu takut juga harap hati-hati jangan menjadi takabbur. Berkaitan dengan mata pencaharian yang terpengaruh, yakinlah tetap ada jalan. Menyitir apa yang berkali-kali dipesankan oleh Pak Bus, “Boleh pasrah tapi jangan berputus asa.”

Diskusi semakin hangat. Petikan gitar Kang Gatot “Ndrengez” membawakan lagu “Tan Kena Kinaya Ngapa” menambah hangatnya suasana. 

“Tan kena kinaya ngapa”

“Manungsa isane ngreka lan njangka”

“Mula aja nganti ndhisiki kersa”

“Supaya lakumu ora rekasa”

Jika dulur-dulur penasaran dengan lagunya, langsung saja klik linknya https://youtu.be/RWtaBScfcig. Saat reportase ini ditulis, tak kurang dari 2.000 pengguna Youtube sudah mendengarkan lagu ini.

Suara Kang Gatot mampu membangkitkan simpul-simpul saraf yang sempat tak terfokus. Kini tiba saatnya memfokuskan pikiran guna menyerap apa saja ilmu-ilmu yang akan di-wedar-kan oleh Pak Bus.

“Surat al-Baqarah ayat 286, itu adalah ayat rahman. Ayat yang penuh berkah yang ketika turun ayat itu Nabi Muhammad sujud berkali-kali. Ayat yang memberikan motivasi besar dalam kehidupan. Laa yukallifallahu nafsan illa wus’aha. Jadi, gak usah kuatir. Apapun yang dilakukan manusia sudah terukur dengan kemampuan.” Pak Bus mengawali wedaran-nya.

Lebih lanjut, Pak Bus juga menyampaikan tadabbur surat al-Mu’minun ayat 78. “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati (fuad). Amat sedikitlah kamu bersyukur.” Pendengaran lebih bisa menangkap banyak informasi dalam waktu yang sama daripada penglihatan. Misalnya saat kita berdiam diri di rumah. Informasi yang ditangkap oleh penglihatan adalah barang yang ada di rumah itu. Namun, pendengaran bisa menangkap informasi suara tetangga yang punya 3 hajatan sekaligus. Tetangga sebelah ada tahlilan, yang agak jauh ada mantu, desa sebelah nanggap ludruk. Itu semua bisa diterima oleh pendengaran dalam satu waktu.

Masih di surat al-Mu’minun ayat 78. Informasi bisa diterima dalam bentuk apa saja. Tetapi, karena pengalaman, daya, cipta manusia berbeda menghasilkan pendapat yang juga berbeda.

“Neng ndunyo piro suwene, paribasan mung mampir ngombe,” pesan Pak Bus mengingatkan. Kehidupan dunia itu tidak lama akhir episodenya. Wayang itu rame saat palagan, kalau dhalangnya sudah tancep kayon ya sudah berakhir.

“Abot anak ketimbang telak. Wis aku rapopo rekasa sing penting anakku kepenak.” dawuh Pak Bus mengakhiri wedaran-nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *